Jakarta (ANTARA) - Lonjakan harga kakao dunia hingga menembus rekor 11.000 dolas AS (sekitar Rp176 juta) per ton pada 2023 semestinya menjadi angin segar bagi negara produsen seperti Indonesia.
Kenaikan harga akibat anjloknya pasokan dari Afrika membuka peluang besar untuk mendongkrak pendapatan petani sekaligus memperkuat devisa ekspor. Namun realitas di lapangan justru berkebalikan.
Di tengah posisinya sebagai salah satu eksportir produk olahan kakao terbesar dunia, Indonesia malah bergantung pada impor biji kakao mentah untuk menggerakkan industrinya sendiri.
Paradoks pun mengemuka, pabrik pengolahan tumbuh pesat dan produknya laku keras di pasar global, sementara sektor hulu melemah dan semakin bergantung pada pasokan luar negeri.
Padahal, Indonesia pernah berjaya di panggung kakao dunia. Pada 2010, produksi nasional mencapai puncaknya sekitar 844 ribu ton dan menempatkan Indonesia di peringkat ketiga produsen kakao global.
Namun sejak itu tren berbalik arah. Produksi kakao terus merosot hingga hanya sekitar 632 ribu ton pada 2023 seiring menyusutnya luas kebun dari 1,56 juta hektare menjadi 1,39 juta hektare dalam kurun empat tahun. Penurunan ini terjadi justru saat permintaan global cokelat terus meningkat.
Ironinya, di tengah produksi biji kakao yang stagnan, industri pengolahan dalam negeri justru melaju kencang. Ekspor produk olahan kakao Indonesia telah menembus ratusan ribu ton dengan nilai lebih dari 1 miliar dolar AS (setara Rp16 triliun), menjadikan Indonesia eksportir cocoa butter terbesar kedua dunia.
Hilirisasi tampak sukses di atas kertas, tetapi fondasinya rapuh karena pasokan bahan baku lokal tak mencukupi.
Kesenjangan antara kapasitas industri dan produksi kebun menciptakan tekanan serius pada pasokan kakao nasional. Kebutuhan bahan baku industri domestik diperkirakan mendekati 400 ribu ton per tahun, sementara produksi dalam negeri tak mampu mengimbangi. Kekurangan ini ditutup dengan impor yang terus meningkat, bahkan mencapai ratusan ribu ton dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar berasal dari Ekuador.
Akibatnya, kapasitas terpasang pabrik yang mencapai sekitar 700 ribu ton per tahun baru dimanfaatkan sebagian. Indonesia menjadi eksportir besar kakao olahan, tetapi nilai tambah dari hilirisasi belum sepenuhnya dinikmati petani lokal.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































