Jakarta (ANTARA) - Hari Raya Idul Fitri adalah saat yang ditunggu-tunggu setiap Muslim, setelah sebulan menjalankan puasa Ramadhan.
Tim Bangkit Sumatera ANTARA memotret suasana Lebaran di lokasi bencana di Aceh, pada Maret 2026. Tim periode ketiga ini berangkat dari Jakarta pada 15 Maret, atau 5 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri.
Mendarat di Bandara Kualanamu, Medan, Minggu (15/3) malam, keesokan paginya tim melanjutkan perjalanan menuju satu rumah sakit di Aceh Tamiang, yang sempat viral, saat bencana terjadi, RSUD Muda Sedia.
Nama itu sebelumnya seringkali menjadi perbincangan di media sosial. Potongan-potongan video dramatis menunjukkan bagaimana lantai dua rumah sakit menjadi tempat bertahan hidup bagi pasien dan tenaga medis, ketika air bah menenggelamkan lantai dasar.
Kini, empat bulan pascabencana, tempat itu telah berubah, menunjukkan proses pemulihan yang terus berjalan, meski belum 100 persen. Lumpur memang sudah dibersihkan, aktivitas di rumah sakit pun sudah berjalan, bahkan beberapa bagian bangunan juga sudah diperbaiki dan dicat ulang tanda adanya kebangkitan dari keterpurukan.
Bergegas, kami segera menjalankan tugas. Merekam gambar, memotret, mewawancarai beberapa orang. Perjalanan kami masih berlanjut.
Sekumur dan Lautan Kayu
Semakin jauh masuk menyusuri Aceh, sampailah tim ke Desa Sekumur, Sekerak, Aceh Tamiang. Ternyata kerusakan yang kami lihat di jalan sebelumnya, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang terjadi di desa yang cukup berada di pedalaman ini.
Untuk mencapainya, kami harus menyeberangi Sungai Tamiang dengan rakit sederhana yang, kala itu, menjadi alat transportasi penting untuk mobilitas warga.
Turun dari rakit, kami pun menyusuri desa itu. Lagi-lagi, kami dibuat tertegun melihat begitu banyaknya sampah kayu sisa banjir yang terbawa sampai ke desa itu. Salah seorang anggota tim ANTARA, Bang Aloy, seorang pria dari Timur dengan perawakan yang besar, sempat mencoba membandingkan badannya dengan kayu yang terdampar tersebut, dan hasilnya, bahkan kayu tersebut tak bisa ia jangkau dengan pelukan.
Lebih jauh kami menyusuri jalan, mata kami tak henti-hentinya menjelajah ke kanan dan ke kiri, namun sejauh mata memandang, semua hanyalah kayu gelondongan sisa banjir yang belum sempat dibereskan seluruhnya.
Sampan dari luka
Suasana di Desa Sekumur, saat itu cukup terik, namun masih ada embusan angin yang membuat jalan kaki kami terasa tak terlalu menyiksa, meskipun, saat itu, sedang berpuasa. Saat berjalan, kami seringkali bertegur sapa dengan warga, hingga pandangan kami terkunci oleh satu rumah yang di depannya terdapat sampan kayu besar yang masih belum rampung.
Ternyata sampan itu dibuat oleh seorang kakek berumur 65 tahun bernama Mukhtar Sulaiman. Bukan tanpa sebab, sampan itu dibuat dari kayu sisa banjir yang terseret, hingga ke depan rumahnya.
Berbekal kemampuan membuat sampan yang ia warisi dari sang ayah, Mukhtar mengubah kayu gelam dengan panjang sekitar 10 meter dan berdiameter lebih dari satu meter itu menjadi sampan yang bisa digunakan untuk masyarakat.
Bukan untuk disewakan ataupun diperjualbelikan. Dengan kerendahan hati ia mengatakan bahwa sampan itu dibuat sebagai bentuk sedekah ke sesama masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
“Ini saya gunakan sebagai sedekah saya untuk masyarakat ini, karena mereka cukup banyak menolong kami dari luar, mengapa kita tidak bisa?” Mukhtar mengatakan hal itu, sambil memegang kapak yang digunakan untuk memahat sampan.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































