AC tidak sehat bisa berdampak pada konsumsi BBM

1 week ago 7

Jakarta (ANTARA) - Penggunaan air conditioner (AC) pada kendaraan kerap dianggap sepele oleh pengendara, padahal sistem pendingin kabin ini memiliki pengaruh langsung terhadap konsumsi bahan bakar, baik pada mobil berbahan bakar bensin, diesel, maupun BBG.

Co-Founder Dokter Mobil, Ko Lung-Lung mengatakan bahwa ketika fitur pendingin dalam kendaraan tersebut dalam kondisi tidak sehat dan terus dipaksakan menyala akan berakibat pemborosan pada konsumsi bahan bakar.

“Kalau tidak dingin dan pemilik terus memaksakan dihidupkan AC itu bisa jadi boros dan itu harus dibawa ke bengkel untuk diperiksakan,” kata Ko Lung-Lung saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan pada dasarnya, sistem AC pada kendaraan bekerja dengan mekanisme yang sama. Komponen utamanya terdiri atas kompresor, kondensor, filter dryer, katup ekspansi, dan evaporator.

Dalam hal ini, komproser memiliki tugas untuk mendorong sirkulasi freon dan oli, sementara kondensor mengubah freon dari gas menjadi cair. Setelah melalui proses filtrasi di filter dryer, freon kemudian diubah kembali menjadi gas di evaporator.

Baca juga: Kiat aman tinggalkan kendaraan EV dalam waktu lama

Menurut dia, kinerja freon yang berubah dari cair menjadi gas inilah yang menyerap panas dan menghasilkan udara dingin. Udara tersebut kemudian dialirkan ke dalam kabin melalui hembusan blower, sehingga menciptakan efek pendinginan bagi penumpang.

“Kompresor AC digerakkan oleh mesin kendaraan, sehingga membutuhkan tenaga tambahan. Semakin berat kerja kompresor, maka semakin besar pula beban mesin, yang pada akhirnya meningkatkan konsumsi BBM,” ujar dia.

Selain itu, beberapa perawatan mesti dilakukan oleh pemilik kendaraan seperti rutin dalam mengganti oli komproser. Menurut dia, idealnya pemilik kendaraan haru rutin mengganti setiap 20.000 kilometer sekali.

Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya gesekan berlebih, hingga kerusakan pada bagian kompresor.

Penggantian yang dilakukan secara rutin ini juga dapat mencegah terjadinya kerja sistem menjadi lebih berat dan tidak efisien.

Baca juga: Cegah kerusakan ketika mobil ditinggal dalam waktu lama

Menurut dia, faktor lain yang tak kalah penting adalah suhu radiator. Letak kondensor yang berdekatan dengan radiator membuat keduanya saling memengaruhi.

“Jika radiator terlalu panas atau kipas tidak bekerja optimal, maka kondensor ikut panas dan kinerja AC menurun. Akibatnya, sistem akan bekerja lebih keras untuk menghasilkan suhu dingin yang diinginkan, sehingga konsumsi BBM pun meningkat,” ucap dia.

Komponen pendukung seperti magnetic clutch dan solenoid valve juga berperan dalam mengatur kerja kompresor berdasarkan perintah dari sistem komputer kendaraan.

Jika salah satu komponen ini bermasalah, maka kinerja AC menjadi tidak stabil dan berpotensi menambah beban mesin.

Dengan demikian, penggunaan AC memang tidak bisa dipisahkan dari kenyamanan berkendara, namun perawatan yang tepat menjadi kunci agar konsumsi bahan bakar tetap efisien.

Pemeriksaan rutin pada sistem AC dan pendingin mesin sangat disarankan untuk menjaga performa kendaraan tetap optimal sekaligus menghindari pemborosan BBM.

Baca juga: Penting fokus dalam berkendara guna hindari aquaplaning

Baca juga: Lima hal penting yang harus dihindari pengemudi saat di jalan tol

Baca juga: Modifikasi ban ternyata bikin boros konsumsi bahan bakar

Pewarta:
Editor: Mahmudah
Copyright © ANTARA 2026

Read Entire Article
Rakyat news | | | |