Jenewa/Kinshasa (ANTARA) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (12/8) memperingatkan bahwa wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo menjadi wabah terbesar kedua sepanjang sejarah pencatatan setelah jumlah kasus terkonfirmasi meningkat menjadi 4.449 dengan 2.061 kematian.
"Ini sudah menjadi wabah Ebola terbesar kedua sepanjang sejarah, dan penyebarannya lebih cepat daripada wabah Ebola mana pun sebelumnya. Dengan laju saat ini, wabah ini diperkirakan akan melampaui wabah Ebola di Afrika Barat pada 2014 hingga 2016," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah taklimat pers di Jenewa.
Data terbaru yang dirilis pada Rabu oleh otoritas kesehatan masyarakat RD Kongo menunjukkan bahwa tingkat kematian kasus secara keseluruhan berada di angka 46,3 persen. Sebanyak 716 pasien masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit, sementara 886 orang telah pulih.
Tedros menyebutkan bahwa wabah ini telah menyebar jauh lebih awal sebelum terdeteksi, sehingga upaya penanggulangan masih harus berjuang untuk mengatasinya.
"Wabah tersebut memulai penyebaran jauh lebih awal. Wabah ini masih jauh di depan kami, dan kami sedang berupaya untuk mengejarnya," ujar dirjen WHO tersebut.
WHO mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen dari seluruh kasus terkonfirmasi dan 80 persen kasus kematian dilaporkan terjadi di Provinsi Ituri, di mana penularan yang berkelanjutan terus terjadi.
Tedros mengatakan sebagian besar kasus kematian masih terjadi di tengah masyarakat, bukan di pusat perawatan, sementara banyak kasus terdeteksi di luar daftar kontak yang diketahui. Hal ini mengindikasikan bahwa rantai penularan masih belum teridentifikasi.
"Selama kita belum mengetahui dan memutus setiap rantai penularan, kita tidak akan bisa menghentikan wabah ini," katanya.
Wabah tersebut, yang disebabkan oleh virus Ebola Bundibugyo, diumumkan oleh pemerintah RD Kongo pada 15 Mei.
Direktur eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO Chikwe Ihekweazu mengatakan bahwa hasil penyelidikan menunjukkan virus tersebut kemungkinan telah beredar selama dua hingga tiga bulan sebelum wabah terdeteksi secara resmi, meskipun waktu pasti awal mula penularan masih dalam penyelidikan.
Pewarta: Xinhua
Editor: Imam Budilaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































