Peneliti UB buat alat deteksi dini hipotiroid pada bayi baru lahir

2 hours ago 4

Malang (ANTARA) - Tim peneliti Universitas Brawijaya (UB) yang diketuai Prof Dr Aulanni’am mengembangkan alat deteksi dini penyakit hipotiroid pada bayi baru lahir menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay atau ELISA.

Inovasi ini dirancang sebagai sistem diagnostik yang mampu meningkatkan akurasi, sensitivitas, serta efisiensi dalam mendeteksi gangguan hormon tiroid pada bayi sejak dini, yang selama ini menjadi tantangan dalam dunia medis karena minimnya gejala awal yang terlihat.

"Secara teknis, alat ini bekerja dengan memanfaatkan antibodi poliklonal yang dihasilkan melalui induksi protein rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH). Protein rekombinan tersebut berperan sebagai antigen yang dirancang secara spesifik untuk merangsang sistem imun menghasilkan antibodi dengan afinitas tinggi terhadap biomarker hormon tiroid," kata Prof Aulanni’am di Malang, Jawa Timur, Selasa.

Proses ini, katanya, menjadi inti inovasi, karena kualitas antibodi yang dihasilkan sangat menentukan ketepatan deteksi. Antibodi poliklonal yang terbentuk memiliki kemampuan mengenali berbagai epitop dari satu antigen, sehingga meningkatkan peluang interaksi dengan target biomarker dalam sampel biologis.

Dalam pengoperasiannya, kata Prof Aul, alat ini terintegrasi dengan metode ELIZA, yaitu teknik analisis berbasis reaksi antigen-antibodi yang dilengkapi sistem enzimatik sebagai indikator.

Baca juga: Universitas Brawijaya tambah 10 guru besar bidang ilmu berbeda

Ia mengatakan ketika sampel darah bayi dimasukkan ke dalam sistem, antibodi akan berikatan dengan hormon atau biomarker spesifik yang berkaitan dengan fungsi tiroid. Reaksi ini kemudian memicu perubahan warna akibat aktivitas enzim, selanjutnya diukur menggunakan pembacaan optik. Intensitas warna yang terbentuk berbanding lurus dengan konsentrasi biomarker, sehingga memungkinkan analisis kuantitatif yang objektif dan terstandar.

“Hipotiroid kongenital merupakan gangguan endokrin yang harus dideteksi sedini mungkin, karena berdampak besar pada tumbuh kembang anak. Melalui inovasi ini, kami berupaya menghadirkan metode deteksi yang lebih presisi guna mendukung program skrining kesehatan bayi di Indonesia,” ujar Prof Aul.

Menurut dia, keunggulan inovasi alat ini terletak pada tingkat sensitivitas yang tinggi, sehingga mampu mendeteksi kadar hormon dalam konsentrasi yang sangat rendah, bahkan sebelum munculnya gejala klinis.

Selain itu, tingkat spesifisitasnya juga meningkat, karena penggunaan antibodi yang dirancang secara khusus terhadap target biomarker tertentu. Hal ini menjadikan alat ini lebih unggul dibandingkan metode konvensional yang cenderung memiliki keterbatasan dalam mendeteksi kasus pada tahap awal.

Dari sisi desain inovasi, lanjutnya, alat ini dikembangkan dalam bentuk prototipe kit diagnostik yang praktis dan berpotensi untuk diproduksi secara massal. Penggunaan bahan berbasis riset dalam negeri, khususnya pada pengembangan protein rekombinan dan antibodi, memberikan nilai tambah dalam hal efisiensi biaya produksi.

Baca juga: Tim riset UB ingatkan pemerintah tingkatkan mitigasi mikroplastik

Alat ini diharapkan dapat menjadi alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan produk impor, sekaligus memperluas akses layanan deteksi dini di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk di daerah dengan keterbatasan sumber daya.

Lebih lanjut, Prof Aul mengatakan inovasi ini juga memiliki potensi pengembangan sebagai platform diagnostik yang lebih luas.

Teknologi berbasis antibodi dan metode ELISA yang digunakan bersifat fleksibel, sehingga dapat diadaptasi untuk mendeteksi berbagai jenis penyakit lain dengan mengganti target antigen yang digunakan, dan inovasi ini tidak hanya relevan dalam konteks hipotiroid kongenital, tetapi juga sebagai fondasi pengembangan teknologi diagnostik biomedis di Indonesia.

Ia berharap dengan hadirnya alat ini proses skrining bayi baru lahir dapat dilakukan secara lebih cepat, akurat, dan efisien.

Inovasi ini sekaligus memperkuat posisi riset nasional dalam menghasilkan teknologi kesehatan yang aplikatif, berdaya saing, dan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

"Alat ini belum dipasarkan, namun pengembangan alat ini sudah mendapat perhatian dari industri, di antaranya PT Bio Farma (Persero) untuk dapat dikembangkan dalam skala industri, sehingga dapat dikomersialisasi dan digunakan masyarakat," ujarnya.

Baca juga: Mahasiswa UB luncurkan sistem deteksi dini kanker payudara lewat BUDDY

Pewarta: Endang Sukarelawati
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |