Wamenaker: Pelatihan vokasi perkuat kemandirian ekonomi korban bencana

5 hours ago 6

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menilai pelatihan vokasi menjadi salah satu upaya dalam memperkuat kemandirian ekonomi bagi para korban bencana alam.

“Bencana tidak hanya meninggalkan dampak terhadap infrastruktur dan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi, mata pencaharian, usaha masyarakat, dan produktivitas tenaga kerja,” kata Wamenaker dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Lebih lanjut, ia mengatakan pemulihan pascabencana perlu memperhatikan kapasitas masyarakat selain pembangunan kembali infrastruktur dan lingkungan.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) menyelenggarakan “Workshop Teknis Menjahit Pakaian Ready to Wear” dalam rangka percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera di Banda Aceh.

Dalam kegiatan ini, Kementerian Ekraf menginisiasi workshop, sedangkan BPVP Banda Aceh menjadi salah satu lokasi pelaksanaan sekaligus memberikan dukungan teknis melalui pelatihan vokasi.

Menurut Wamenaker, keterampilan menjahit “Ready to Wear” relevan dengan pengembangan ekonomi kreatif karena dapat menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Afriansyah mengapresiasi kolaborasi lintas kementerian dalam kegiatan tersebut. Ia menilai rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk menghubungkan pelatihan dengan potensi ekonomi yang ada di daerah.

Dalam bidang fesyen, Afriansyah melihat Aceh memiliki potensi besar karena didukung kekayaan budaya, motif, kerajinan, kreativitas masyarakat, dan identitas lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.

“Potensi tersebut harus diikuti dengan peningkatan kompetensi. Kita tidak cukup hanya menghasilkan produk yang bagus, tetapi harus mampu menghasilkan produk yang berkualitas, memiliki desain menarik, sesuai tren, memiliki identitas, harga kompetitif, dan mampu diterima konsumen,” katanya.

Ia menambahkan, pelatihan perlu menghubungkan keterampilan dengan kebutuhan nyata di lapangan, mulai dari proses produksi hingga kemampuan mengembangkan dan memasarkan produk.

“Dari keterampilan menjadi produk, dari produk menjadi usaha, dari usaha menjadi pendapatan, dan dari pendapatan menjadi kemandirian ekonomi. Inilah semangat vokasi yang harus terus kita bangun,” ujar Afriansyah.

Baca juga: Kemnaker tekankan lima aspek penting pembangunan ekosistem vokasi

Baca juga: Sekolah vokasi Kemenperin gandeng industri pacu ekonomi kreatif halal

Baca juga: Seleksi Pelatihan Vokasi Nasional Tahap 4 dimulai 13 Agustus

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |