"Janur" dorong ulama perempuan masuk AHWA pada Muktamar NU

2 hours ago 3

Jombang (ANTARA) - Jaringan Nahdlatul Ulama Kultural (Janur) mendorong agar ulama perempuan diberi kesempatan menjadi anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.

Penggerak Janur Aan Anshori mengatakan forum AHWA memiliki posisi strategis dalam struktur pengambilan keputusan NU, khususnya dalam menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

"AHWA semestinya diisi berdasarkan kapasitas keilmuan, integritas, keteladanan, pengabdian, pengaruh, dan kemampuan menjaga kemaslahatan jam'iyah," kata Aan dalam keterangan tertulis di Jombang, Rabu.

Ia mengemukakan mekanisme AHWA yang digunakan sejak Muktamar Ke-35 NU ini perlu dikaji kembali karena seluruh anggota AHWA yang terpilih selama ini merupakan laki-laki, sementara tidak terdapat ketentuan yang secara eksplisit menyatakan anggota AHWA harus laki-laki.

Menurut ia, NU memiliki tradisi panjang dalam melahirkan ulama perempuan yang berkontribusi dalam pendidikan pesantren, pelayanan sosial, pengembangan pemikiran keislaman, dan kehidupan kebangsaan.

Aan mengatakan setidaknya ada dua ulama perempuan yang dinilai memiliki kualifikasi untuk menjadi anggota AHWA, yakni Nyai Dr (HC) Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dan Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid.

Sinta Nuriyah memiliki rekam jejak panjang dalam menyuarakan penghormatan terhadap martabat manusia, kesetaraan, dan kehidupan beragama yang inklusif.

Sinta Nuriyah, istri Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur), juga pernah menjadi bagian dari kepengurusan Mustasyar PBNU dalam beberapa periode.

Sementara Machfudhoh Aly Ubaid juga memiliki pengalaman panjang dalam pendidikan pesantren dan perjuangan NU. Putri Kiai Haji Abdul Wahab Chasbullah tersebut juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU.

"Kedua tokoh tersebut menunjukkan bahwa NU memiliki sumber daya keulamaan perempuan yang tidak dapat dipandang sebagai pelengkap," ujarnya.

Ia menegaskan pemberian ruang bagi ulama perempuan dalam AHWA bukan sekadar persoalan keterwakilan berdasarkan jenis kelamin, melainkan upaya memperluas perspektif keulamaan dalam pengambilan keputusan organisasi.

"Sudah waktunya NU tidak hanya berbicara tentang pentingnya peran ulama perempuan, tetapi juga memberikan ruang nyata kepada mereka dalam forum strategis pengambilan keputusan organisasi, termasuk dalam sembilan anggota AHWA," kata Aan.

PBNU akan menggelar Muktamar Ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi forum permusyawaratan tertinggi NU untuk membahas berbagai agenda organisasi, termasuk pemilihan pengurus baru.

Baca juga: PBNU matangkan persiapan Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas Jombang

Baca juga: Yenny Wahid: Rekonsiliasi mutlak dilakukan usai Muktamar Ke-35 NU

Baca juga: Pengamat harap persaingan sehat di Muktamar NU 2026

Pewarta: Asmaul Chusna
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |