Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto memastikan dukungan rumah rusak dan seluruh kebutuhan bagi korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) terpenuhi.
Suharyanto datang langsung menemui para penyintas di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, NTT, Rabu, untuk melihat kondisi penyintas dari dekat dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi, sekaligus memberikan penguatan agar para korban tetap tenang dan memiliki harapan dalam menghadapi situasi pascagempa.
"Kesiapsiagaan tetap harus ditingkatkan, terutama dengan tidak memasuki rumah yang telah mengalami kerusakan sebelum dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Kalau rumah sudah rusak, jangan dipaksakan untuk masuk. Kita tidak pernah tahu kapan gempa susulan terjadi, yang paling penting sekarang adalah keselamatan bapak dan ibu semua," ujarnya kepada para penyintas.
Ia menjelaskan, berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa susulan yang terjadi cenderung memiliki kekuatan lebih kecil dibandingkan gempa utama. Kendati demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti setiap arahan pemerintah serta petugas di lapangan.
Baca juga: BNPB: Pemerintah siapkan perbaikan rumah warga terdampak gempa NTT
"Jangan panik, tetapi jangan lengah. Tetap berada di tempat yang aman, ikuti arahan petugas, dan jangan kembali ke rumah yang rusak sebelum dipastikan aman," katanya.
Selain memastikan keselamatan masyarakat, pemerintah juga menyiapkan langkah konkret untuk membantu warga memperbaiki maupun mendapatkan kembali tempat tinggal yang aman.
BNPB akan memberikan dukungan perbaikan rumah berdasarkan tingkat kerusakannya, yakni sebesar Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rumah rusak sedang. Sementara itu, bagi rumah yang masuk kategori rusak berat, pemerintah akan memberikan dukungan pembangunan hunian tetap yang bersifat permanen.
"Untuk rumah yang rusak ringan dan sedang akan kita bantu perbaiki. Kalau rusak berat, solusinya adalah hunian tetap. Pemerintah hadir agar masyarakat tidak dibiarkan menghadapi kondisi ini sendiri," ucap Suharyanto.
Baca juga: BNPB kirimkan 165,9 ton bantuan untuk warga terdampak gempa NTT
Sebelum hunian tetap bagi rumah rusak berat selesai dibangun, BNPB juga menyiapkan dua alternatif tempat tinggal sementara bagi masyarakat. Penyintas dapat memperoleh dana tunggu hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan atau menempati hunian sementara (huntara) yang disiapkan pemerintah bagi setiap kepala keluarga.
Menurut Suharyanto, dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan masyarakat tetap memiliki tempat tinggal yang layak selama proses pemulihan berlangsung. Oleh karena itu, penanganan tidak berhenti pada masa tanggap darurat, tetapi harus dilanjutkan dengan langkah pemulihan yang terukur dan sesuai kebutuhan masyarakat.
"Yang paling penting sekarang datanya harus benar. Rumah mana yang rusak ringan, sedang, dan berat harus didata dengan baik. Setelah diverifikasi dan divalidasi, kita bisa segera menentukan bantuan dan mulai proses pembangunannya," tuturnya.
Merespons kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ende bergerak cepat dengan menyediakan tenda keluarga sebagai tempat tinggal sementara bagi warga terdampak. Dukungan tersebut menjadi langkah awal untuk memastikan masyarakat tetap memiliki tempat berlindung yang aman selama proses penanganan darurat berlangsung.
BNPB menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendampingi masyarakat terdampak, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar pada masa darurat hingga proses pemulihan dan pembangunan kembali rumah warga.
Baca juga: BNPB: Jumlah korban gempa NTT bertambah satu orang jadi 71 wafat
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































