Jakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mendorong pelaku usaha kuliner di seluruh Ibu Kota untuk menerapkan praktik ramah lingkungan dan berkelanjutan guna meningkatkan kualitas lingkungan.
"Pengelolaan limbah cair, sampah makanan dan emisi harus menjadi bagian integral dari operasional usaha," kata Wakil Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin di Jakarta, Sabtu.
Dudi menegaskan bahwa sektor kuliner yang jumlahnya masif merupakan salah satu kontributor terbesar dalam menghasilkan limbah di Jakarta.
Karena itu, kata dia, penerapan standar lingkungan tidak lagi bersifat opsional, namun harus diimplementasikan dengan nyata.
Menurut dia, upaya tersebut diperkuat melalui program pembinaan pendidikan, kolaborasi dan aksi (education, collaboration, action/ECO ACT) dengan penguatan pemahaman dan kemampuan teknis pelaku usaha; peningkatan kolaborasi dengan akademisi, dunia usaha, mitra tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan komunitas, serta aksi nyata dan proyek percontohan yang dapat direplikasi.
Baca juga: Pemkot Jaktim latih 50 pelaku usaha olah limbah kuliner
"Melalui ECO ACT, kami memastikan pelaku usaha memahami dan menjalankan standar lingkungan agar operasional tidak menambah beban pencemaran Jakarta," ujarnya.
Sementara itu, Kapokja Deputi Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Ditjen Pengurangan Sampah dan Ekonomi Sirkular KLH Wisti Noviani Adnin mengungkapkan bahwa UMKM kuliner di Jakarta menghasilkan lebih dari 500 ton sampah per hari.
Ia menekankan perlunya pemilahan dan pengolahan sampah langsung dari sumbernya.
"Pelaku usaha harus memilah sampah sejak di dapur. Kolaborasi dengan penyedia layanan pengelolaan sampah seperti peternakan, asosiasi maggot atau komposter sangat penting agar sampah organik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA)," katanya.
Di sisi lain, Founder Bahasa Bisnis Edhy Surbakty menyoroti pentingnya pengurangan sisa makanan (food waste) sebagai kunci bisnis kuliner berkelanjutan.
Baca juga: DKI bina usaha kuliner agar lebih ramah lingkungan
Ia menyarankan pelaku usaha melakukan pencatatan sisa makanan di tiga titik kritis yaitu persiapan dapur (prep), sisa makanan di piring (plate waste) dan bahan kedaluwarsa di penyimpanan (storage).
"Sediakan pilihan porsi kecil, regular dan besar, serta evaluasi menu yang jarang dipesan. Bekerja samalah dengan bank sampah, pegiat maggot atau komposter untuk mengolah sisa makanan," ujarnya.
Edhy juga menekankan pentingnya edukasi keberlanjutan melalui komunikasi dan kemasan.
Pelaku usaha dapat memilih kemasan yang dapat didaur ulang serta menyediakan opsi tak ada peralatan makan (no cutlery) dengan pesan edukatif, misalnya "mengurangi sendok plastik hari ini berarti tiga gram plastik tidak masuk TPA.’
Menurut dia, praktik keberlanjutan dapat sekaligus memperkuat citra usaha melalui penceritaan merek (brand storytelling), misalnya menceritakan capaian pengurangan sampah dapur hingga 20 persen dalam tiga bulan.
Baca juga: Kelurahan Cawang jadi lokasi percontohan kuliner hijau
"Sebanyak 62 persen konsumen memilih produk berkelanjutan meski harganya lebih tinggi. Ini peluang besar bagi pelaku usaha kuliner," katanya menambahkan.
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































