Yogyakarta (ANTARA) - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pengembangan inovasi pengolahan sampah organik terpadu dengan pemanfaatan Black Soldier Fly (BSF) atau maggot sebagai solusi efektif dalam mengurai sampah sisa makanan di kampus.
Kepala Subdirektorat Infrastruktur Berkelanjutan UMY Ferriawan Yudhanto di Yogyakarta, Kamis, mengatakan sampah organik basah dari kantin dan unit usaha kampus selama ini menjadi tantangan tersendiri.
Penggunaan maggot BSF dinilai sebagai pendekatan yang paling tepat untuk menangani permasalahan tersebut secara biologis dan inovatif.
"Sampah organik basah adalah jenis sampah yang paling sulit dikelola. Oleh karena itu kami mengembangkan pengolahan menggunakan maggot BSF. Nantinya seluruh sisa makanan dari kantin dan berbagai unit usaha di lingkungan kampus akan diproses menjadi pakan maggot," kata Ferriawan.
Baca juga: Menteri LH: Kampus harus jadi garda depan pembangunan hijau basis ilmu
Menurut dia, efektivitas maggot BSF dalam mengurai sampah organik mampu mereduksi volume limbah makanan secara signifikan dalam waktu singkat. Inovasi ini sekaligus mengubah paradigma sampah yang semula menjadi beban, menjadi sumber daya yang produktif bagi lingkungan kampus.
Di samping pemanfaatan maggot, UMY juga secara konsisten mengolah sampah organik kering seperti dedaunan dan sisa pemangkasan tanaman menjadi kompos. Hasil pengolahan kompos tersebut kemudian dimanfaatkan kembali untuk menunjang kebutuhan penghijauan dan pemeliharaan vegetasi di seluruh area kampus.
"Pemilahan harus dimulai dari diri kita sendiri. Dengan memisahkan sampah organik basah dan kering sejak dari sumbernya, kami dapat menangani setiap karakteristik sampah sesuai dengan metode pengolahan yang tepat. Sampah daun diolah menjadi kompos, sementara sampah sisa makanan dikelola lewat maggot BSF," katanya.
Baca juga: Kemdiktisaintek gandeng KLH bangun lingkungan berkelanjutan di kampus
Ferriawan berharap praktik baik yang dijalankan UMY dapat menjadi prototipe bagi lembaga pendidikan lain maupun masyarakat luas dalam mengelola limbah rumah tangga atau limbah komunitas secara mandiri.
"Kami ingin menunjukkan bahwa universitas memiliki peran sebagai agen perubahan. Apa yang kami terapkan di kampus tidak hanya berhenti di sini, tetapi bisa diadaptasi oleh masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan," katanya.
Sebagai bagian dari pengembangan kampus hijau yang lebih luas, UMY juga terus menerapkan kebijakan pembatasan plastik sekali pakai di kantin, penggunaan energi tenaga surya, serta rencana pengoperasian shutle bus listrik untuk menekan emisi karbon di lingkungan universitas.
Baca juga: Terapkan kampus hijau, UI bakal batasi akses masuk kendaraan selain EV
Pewarta: Sutarmi
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































