UKI bahas strategi Korea Selatan perluas pengaruh di ASEAN

3 months ago 55

Jakarta (ANTARA) - Pusat Studi Ekonomi dan Pembangunan Internasional Universitas Kristen Indonesia (CIED UKI) membahas strategi Korea Selatan dalam memperluas pengaruh geopolitik dan geoekonomi di kawasan Asia Tenggara.

"Berdiskusi menyoroti penguatan kerja sama ekonomi, teknologi, hingga hubungan antarmasyarakat antara Korea Selatan dan negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia," kata Akademisi Program Studi Hubungan Internasional Fisipol UKI Darynaufal Mulyaman di Jakarta, Selasa.

Darynaufal menjelaskan, langkah tersebut mulai diperkuat sejak Presiden Korea Selatan Moon Jae-in memperkenalkan New Southern Policy pada 2017.

Kebijakan itu bertujuan meningkatkan kerja sama ekonomi, politik, dan sosial budaya antara Korea Selatan dengan negara-negara ASEAN serta India.

Dia mengungkapkan, pada 2024 nilai perdagangan bilateral Korea Selatan dengan ASEAN mencapai 192 miliar dolar Amerika Serikat. Capaian tersebut menunjukkan semakin kuatnya hubungan ekonomi kedua pihak.

"Korea Selatan telah berhasil membangun kerangka kerja kemitraan komprehensif dengan negara-negara selatan," ujar Darynaufal.

Meski demikian, dia menilai pengaruh Korea Selatan di Asia Tenggara, terutama Indonesia, masih banyak bertumpu pada fenomena budaya populer Korea atau Hallyu.

Baca juga: UKI sebut kolaborasi sektor kesehatan kunci pertumbuhan ekonomi

Selain itu, dampak ekonomi Korea Selatan masih belum sebesar Jepang maupun China yang memiliki investasi luas serta efek turunan ekonomi lebih besar di kawasan.

Oleh karena itu, Korea Selatan dinilai perlu memperluas pengaruh strategisnya melalui investasi di sektor ekonomi dan teknologi agar memiliki posisi lebih kuat di Asia Tenggara.

"Korea Selatan dapat memperdalam investasi dan kemitraan dengan Indonesia, Thailand, Filipina, dan negara-negara ASEAN lainnya," ucap Darynaufal.

Dia menilai Korea Selatan memiliki peluang besar untuk memanfaatkan keunggulan di bidang kecerdasan buatan dan industri semikonduktor guna memenuhi kebutuhan teknologi global yang terus berkembang.

Sementara itu, Editor Southeast Asia Analyst Han Kyeol Kim menyebut, posisi Korea Selatan dalam percaturan geopolitik kawasan Asia Tenggara. Korea Selatan saat ini berada di peringkat ke-15 dunia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB), meskipun masih berada di bawah China dan Jepang.

Menurut Han, Korea Selatan telah menjadi mitra dialog penuh ASEAN sejak 1991 dan terus memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara di kawasan, termasuk Indonesia.

"Korea Selatan berinvestasi di Indonesia dalam hal kendaraan listrik dan teknologi digital," ujar Han.

Dia menilai Korea Selatan memiliki pendekatan berbeda dibandingkan China dalam memperluas pengaruh di Asia Tenggara.

Baca juga: Akademisi: Krisis di Selat Hormuz ganggu stabilitas ekonomi

Baca juga: Jepang dan Korsel bangun dialog kerja sama keamanan energi

Jika China unggul melalui pembangunan infrastruktur besar-besaran, Korea Selatan lebih menitikberatkan pada pengembangan sumber daya manusia dan transfer teknologi.

Berbagai perusahaan swasta Korea Selatan dapat terlibat dalam pengajaran teknologi dan peningkatan kapasitas masyarakat di negara-negara ASEAN. Selain itu, peluang pendidikan juga dinilai menjadi salah satu instrumen penting untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat (people-to-people connection).

Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |