Seminar Riyadh soroti perkembangan AI dan batas kreativitas manusia

3 hours ago 3

Riyadh (ANTARA) - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap kreativitas manusia, penelitian ilmiah, kedokteran, sastra serta perlindungan hak kekayaan intelektual menjadi bahasan dalam seminar ilmiah yang digelar King Faisal Prize dan King Faisal Center for Research and Islamic Studies (KFCRIS) di Riyadh.

Seminar bertajuk “Kedokteran dan Sastra di antara Kreativitas Manusia dan Kecerdasan Buatan" tersebut merupakan bagian dari program budaya King Faisal Prize dan KFCRIS. Kegiatan itu mempertemukan akademisi dan pakar di bidang sastra, AI serta kekayaan intelektual untuk membahas perubahan yang ditimbulkan teknologi generatif terhadap produksi dan penyebaran pengetahuan.

Seminar yang digelar di Riyadh, pada Kamis (27/8) dihadiri Pangeran Turki Al-Faisal, Ketua Dewan Direksi KFCRIS sekaligus Wakil Ketua Dewan King Faisal Prize.

Sejumlah pembicara dalam seminar tersebut antara lain Direktur Pusat Kecerdasan Buatan sekaligus Direktur Penerbitan Ilmiah Princess Nourah bint Abdulrahman University, Dr Shorouq Al-Sinan; Profesor Sastra dan Kritik pada King Khalid University, Prof Dr Abdulrahman Al-Muhsini; serta Direktur Eksekutif Hak Cipta, Desain dan Sirkuit Terpadu pada Saudi Authority for Intellectual Property, Dr Al-Hanouf Al-Dabbasi.

Diskusi dimoderatori Prof Dr Omar Al-Saif, profesor bahasa Arab di Alfaisal University dan King Saud University yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Ghazi Al-Gosaibi Award.

Para peserta membahas perubahan dalam dunia kreativitas dan pengetahuan seiring meningkatnya kemampuan AI dalam menghasilkan teks dan berbagai bentuk karya intelektual.

Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai makna dan batas kreativitas, terutama dalam membedakan karya yang sepenuhnya dihasilkan manusia dengan karya yang dibuat atau dibantu teknologi AI.

Pembahasan juga menyoroti kemampuan teknologi generatif dalam meniru pengalaman manusia dan menghasilkan karya sastra maupun materi penelitian ilmiah. Para pembicara menekankan pentingnya mempertahankan nilai kemanusiaan dan intelektual dalam kreativitas di tengah perkembangan AI yang berlangsung cepat.

Hak cipta

Persoalan hak cipta dan kekayaan intelektual menjadi salah satu isu utama dalam seminar. Teknologi generatif dinilai menghadirkan tantangan baru bagi perlindungan karya intelektual dan kreatif, khususnya ketika batas antara karya manusia dan konten yang dihasilkan mesin semakin sulit ditentukan.

Para peserta turut membahas aspek ilmiah dan etika penggunaan AI di bidang yang berbasis pengetahuan, termasuk kedokteran, penelitian ilmiah dan sastra.

Perdebatan tersebut juga memiliki relevansi dengan perkembangan kebijakan di Indonesia. Pemerintah Indonesia tengah mengkaji perlindungan hak cipta terhadap karya yang dihasilkan dengan bantuan atau melalui teknologi AI, dengan menempatkan AI sebagai alat dan bukan sebagai subjek hukum.

Kajian tersebut diarahkan untuk mencari keseimbangan antara pengembangan teknologi dan perlindungan terhadap pelaku industri kreatif, termasuk media, musisi, sineas serta kreator digital.

Seminar di Riyadh itu menjadi bagian dari rangkaian program budaya dan akademik KFCRIS dan King Faisal Prize yang bertujuan memperkaya diskusi ilmiah mengenai isu-isu kontemporer, memperkuat dialog antara ilmu humaniora dan sains, serta mengkaji pengaruh teknologi modern terhadap masa depan pengetahuan dan kreativitas.

Sumber : KFCRIS/SPA-OANA

Baca juga: Airlangga: Penguatan AI hingga data center fondasi ekonomi digital RI

Baca juga: Tak gantikan manusia, AINAKI jelaskan pengaruh AI di dunia animasi

Penerjemah: Azis Kurmala
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |