Yogyakarta (ANTARA) - Pakar Kebijakan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Rijal Ramdani menilai meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dipicu oleh fenomena El Niño yang memperpanjang kekeringan serta aktivitas manusia sebagai penyulut utama titik api.
Rijal Ramdani di Yogyakarta, Kamis, mengatakan El Nino berkontribusi menurunkan curah hujan dan memperpanjang kondisi kering, sehingga vegetasi serta lahan gambut kehilangan kelembapan dan menjadi sangat rentan terbakar.
Baca juga: Kabut asap menguatkan ancaman ISPA
"Musim kemarau menjadi lebih panjang karena El Nino, sehingga ilalang dan hutan yang kering rentan terbakar. Kondisi diperparah oleh cuaca panas dan angin kencang yang mempercepat penyebaran api," kata Rijal.
Kendati demikian, ia menekankan El Nino sebatas menciptakan kondisi lingkungan yang mudah terbakar, bukan sumber api langsung.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per akhir Agustus 2026, El Nino kategori sangat kuat memang memicu kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, tetapi tetap dibutuhkan pemicu untuk memulai kebakaran.
Rijal menuturkan sumber api dalam mayoritas kejadian karhutla justru berasal dari aktivitas manusia, baik yang dilakukan secara sengaja maupun akibat kelalaian.
"Praktik pembukaan lahan untuk bercocok tanam dengan cara membakar menjadi pemicu utama. Dalam kondisi normal mungkin bisa dikendalikan, tetapi saat kering dan berangin, api cepat meluas dan sulit dipadamkan," katanya.
Selain pembukaan lahan, aktivitas lain, seperti pencarian madu hutan yang memanfaatkan asap, api unggun yang tidak dipadamkan sempurna, hingga kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di lahan gambut kering turut memicu kebakaran bawah permukaan (ground fire) yang sulit dipadamkan.
Baca juga: Polri-TNI dan Pamhut patroli bersama cegah karhutla di Jambi
Baca juga: Kemenhut kerahkan 1.000 Polhut perkuat penanganan karhutla Kalimantan
Menanggapi periode kritis karhutla yang diprediksi BMKG berlangsung hingga September 2026, Rijal mendesak agar strategi penanganan mengedepankan upaya pencegahan dibanding pemadaman saat api sudah membesar.
"Pencegahan harus menyasar sumber api melalui edukasi masyarakat, patroli berkala, deteksi dini, serta pembasahan lahan gambut secara berkelanjutan sebelum api muncul dan meluas," katanya.
Pewarta: Sutarmi
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































