Purwakarta (ANTARA) – Perum Jasa Tirta II (PJT II) memperkuat penanganan dampak kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah seiring memasuki puncak musim kemarau 2026, terutama untuk menjaga ketersediaan air bagi sektor pertanian dan kebutuhan air baku masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan bersama berbagai instansi terkait melalui pengelolaan ketersediaan air di waduk, pengaturan distribusi air secara adaptif, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), penguatan infrastruktur sumber daya air (SDA), serta dukungan penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak.
Direktur Utama PJT II Imam Santoso mengatakan penanganan kekeringan membutuhkan kolaborasi antarlembaga agar ketersediaan air yang terbatas dapat dimanfaatkan secara optimal.
"Dalam kondisi kemarau seperti saat ini, kita perlu saling membahu, berbagi informasi, dan mengambil langkah yang paling tepat berdasarkan kondisi di lapangan," ujar Imam.
Ia mengatakan PJT II berkomitmen menjaga agar ketersediaan air tetap memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya untuk kebutuhan pertanian dan air baku.
Dalam pelayanan irigasi, PJT II menerapkan pengaturan distribusi air secara adaptif, termasuk sistem gilir-giring di sejumlah wilayah. Distribusi air disesuaikan dengan pola tanam, ketersediaan air, serta kebutuhan aktual di lapangan.
Di wilayah Jatigede dan Rentang, PJT II bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung melakukan penyesuaian pengelolaan air untuk menjaga pelayanan irigasi di tengah keterbatasan pasokan.
Direktur Operasi dan Pemeliharaan PJT II Anton Mardiyono mengatakan pengelolaan air pada musim kemarau tidak hanya berfokus pada jumlah air yang tersedia, tetapi juga memastikan distribusinya tepat sasaran.
"Ketika ketersediaan air terbatas, yang kami jaga bukan hanya jumlah airnya, tetapi bagaimana air tersebut dapat sampai kepada pengguna yang membutuhkan," kata Anton.
Selain pengaturan distribusi, PJT II melakukan perbaikan dan penguatan pada sejumlah infrastruktur SDA yang berpotensi mengganggu kelancaran distribusi air.
Untuk membantu masyarakat terdampak kekeringan, PJT II melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) juga memberikan dukungan penyediaan air bersih di sejumlah wilayah, khususnya Banten.
Dukungan tersebut antara lain berupa bantuan mobil tangki kepada BBWS Cidanau-Ciujung-Cidurian serta kerja sama dengan PMI Provinsi Banten untuk membantu masyarakat yang mengalami penurunan pasokan air.
Sementara itu, di Lampung, PJT II bersama BBWS Mesuji-Sekampung dan PT PLN Nusantara Power melakukan pemantauan terhadap Bendungan Batutegi, Way Sekampung, dan Margatiga. Pemantauan tersebut menjadi salah satu dasar dalam pengambilan keputusan pengelolaan air di wilayah hilir.
Imam mengatakan penanganan kekeringan perlu disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan setiap wilayah.
"Dampak kemarau tidak sama di setiap wilayah. Karena itu, pendekatan yang dilakukan juga harus menyesuaikan kebutuhan masing-masing daerah," ujarnya.
Ia menambahkan, sinergi antarlembaga diperlukan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan air bagi pertanian, masyarakat, dan kebutuhan strategis lainnya selama periode kemarau.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































