Kabupaten Bogor (ANTARA) - Tiga Guru Besar IPB University memaparkan hasil riset yang menawarkan solusi terhadap tantangan global di bidang pangan, kesehatan, dan lingkungan melalui orasi ilmiah yang akan digelar di Kampus IPB Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Dalam konferensi pers pra-orasi ilmiah yang berlangsung secara daring, Kamis, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Julie Ekasari menyoroti pentingnya peningkatan efisiensi akuakultur melalui konsep ekologi nutrisi.
Menurut Julie, Indonesia sebagai produsen akuakultur terbesar ketiga di dunia perlu mulai berorientasi pada efisiensi pengelolaan nutrien, bukan hanya meningkatkan volume produksi.
Baca juga: Empat Guru Besar IPB tawarkan inovasi sumber daya hayati berkelanjutan
"Dalam sistem budi daya intensif, hanya sekitar 20 hingga 40 persen nitrogen pakan yang menjadi biomassa hasil panen, sedangkan sisanya menjadi limbah yang berdampak terhadap kualitas air dan lingkungan," katanya.
Ia menjelaskan konsep ekologi nutrisi memandang pakan, organisme budi daya, mikroorganisme, dan lingkungan sebagai satu sistem yang saling terhubung, sehingga nutrien dapat dimanfaatkan lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Endang Prangdimurti menekankan bahwa manfaat pangan sehat tidak hanya ditentukan oleh kandungan zat aktifnya, tetapi juga oleh kemampuan zat tersebut bertahan selama proses pencernaan dan diserap tubuh.
Melalui teknik pencernaan in vitro, kata Endang, peneliti dapat mengevaluasi bioaksesibilitas komponen pangan secara lebih cepat dan efisien sebelum dilakukan uji pada hewan maupun manusia.
"Manfaat pangan tidak berhenti pada kandungannya, tetapi ditentukan oleh apa yang tersedia dan dimanfaatkan tubuh setelah dicerna," ujarnya.
Adapun Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB University, Charlena memaparkan potensi senyawa apatit sebagai material fungsional untuk menjawab tantangan di bidang kesehatan dan lingkungan.
Baca juga: Guru Besar IPB dorong Indonesia jadi pusat halal dunia
Baca juga: Guru Besar IPB: Kayu gelondongan banjir Sumatera libatkan manusia
Menurut Charlena, hidroksiapatit dan fluorapatit dapat dimanfaatkan sebagai material implan tulang, pelapis implan logam, hingga penyerap logam berat seperti timbal dan kromium pada lingkungan tercemar.
Ia menambahkan pengembangan material komposit berbasis apatit juga berpotensi mendukung teknologi kesehatan sekaligus remediasi lingkungan.
Melalui ketiga orasi ilmiah tersebut, para guru besar IPB University menegaskan pentingnya penguatan riset dan inovasi sebagai landasan pengembangan teknologi untuk mendukung ketahanan pangan, peningkatan kualitas kesehatan, dan keberlanjutan lingkungan di tengah tantangan global.
Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































