Taubat ekologis demi alam yang terpulihkan

2 weeks ago 17
Taubat ekologis tidak boleh berhenti menjadi ajakan kepada sebagian pihak, melainkan harus menjadi kesadaran bersama yang melibatkan semua unsur bangsa

Jakarta (ANTARA) - Dahulu nenek moyang percaya bahwa jika ada bencana yang terjadi itu berarti bahwa manusia telah gagal menjaga alam agar tidak memuntahkan amarahnya.

Namun kini, ada sesuatu yang berubah dalam cara manusia memandang alam. Dulu, hutan diperlakukan sebagai rumah kehidupan. Sungai dihormati sebagai sumber penghidupan. Gunung dijaga karena diyakini menyimpan keseimbangan alam. Laut dirawat karena menjadi ruang tempat manusia menggantungkan masa depan.

Tetapi seiring waktu, hubungan itu perlahan bergeser. Alam tidak lagi selalu dipandang sebagai sahabat yang harus dijaga, melainkan sebagai sumber daya yang dapat diambil sebanyak mungkin.

Hutan menjadi angka dalam laporan produksi. Sungai berubah menjadi saluran pembuangan. Gunung dipandang sebagai cadangan material. Laut menjadi tempat menumpuk berbagai bentuk pencemaran yang dianggap akan hilang dengan sendirinya.

Ketika banjir datang lebih sering, ketika longsor merenggut pemukiman, ketika kekeringan mempersulit kehidupan warga, ketika udara terasa semakin sesak untuk dihirup, manusia sering menyebutnya sebagai bencana alam.

Padahal di balik banyak peristiwa itu, tersimpan jejak panjang keputusan manusia yang selama bertahun-tahun mengabaikan keseimbangan lingkungan.

Oleh karena itu, ajakan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat untuk melakukan taubat ekologis sudah saatnya menjadi pemikiran dan gerakan bersama.

Bukan semata karena istilahnya terdengar berbeda, melainkan karena menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar urusan kebijakan atau program lingkungan hidup.

Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah, menilai istilah tersebut sangat tepat untuk menjawab tantangan lingkungan yang sedang dihadapi Indonesia.

Menurut dia, taubat ekologis memiliki daya sentuh yang lebih kuat dibandingkan berbagai jargon lingkungan yang selama ini sering banyak terdengar. Ada dimensi moral, kesadaran, dan refleksi yang terkandung di dalamnya.

Dalam tradisi yang akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia, taubat bukan sekadar mengakui kesalahan. Taubat adalah keberanian untuk bercermin yang dimulai dari kesediaan mengakui kekeliruan, menyesalinya dengan tulus, menghentikan perbuatan yang salah, lalu berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Ketika konsep itu dibawa ke dalam isu lingkungan hidup, maknanya menjadi sangat luas. taubat ekologis mengajak semua untuk mengakui bahwa selama ini manusia memang telah banyak berbuat salah terhadap alam.


Taubat ekologis

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |