Takjil Pesantren di Lirboyo soroti karakter santri dalam bangun bangsa

4 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama kembali menggelar kegiatan ‘Takjil Pesantren: Talkshow dan Ngaji Bareng Santri’ yang kali ini digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Sabtu, menyoroti pembentukan karakter santri sebagai fondasi penting bagi masa depan bangsa.

Staf Khusus Menteri Agama Farid F. Saenong mengajak para santri mengambil pelajaran dari kisah Nabi Musa dalam Al Quran yakni ketekunan dalam menuntut ilmu dan kerendahan hati di hadapan Allah.

“Dalam Surat Taha ada rekaman pertanyaan Allah kepada Nabi Musa: ‘Apa yang ada di tangan kananmu wahai Musa?’ Nabi Musa menjawab bahwa itu adalah tongkat. Para ulama menjelaskan percakapan itu menunjukkan nikmatnya berdialog dengan Allah sekaligus menggambarkan kegigihan Nabi Musa dalam menuntut ilmu,” ujar Farid Saenong dalam keterangannya di Jakarta.

Baca juga: Wamenag tegaskan pesantren benteng kerukunan Indonesia

Farid menekankan pentingnya kebersamaan antara santri dan para kiai dalam proses pembelajaran. Kedekatan dengan guru, menurutnya, menjadi bagian penting dalam pembentukan kepribadian santri.

“Ketika bersama orang tua dan kiai, meskipun tidak ada bahan untuk dibicarakan tidak masalah, yang penting bisa berkumpul bersama. Jangan ragu untuk membantu dan menjadi asisten kiai,” kata dia.

Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus mengatakan perhatian pemerintah terhadap pesantren menjadi hal penting bagi keberlanjutan pendidikan santri.

Menurutnya, pesantren telah terbukti melahirkan generasi yang memiliki ilmu, akhlak, dan ketahanan moral sebagai wujud karakter santri inspiratif.

“Santri merupakan generasi luar biasa yang perlu diperhatikan pemerintah. Di pesantren mereka terjaga dari bahaya narkoba dan pergaulan bebas,” kata Kiai Kafa.

Baca juga: Kemenag gelar takjil pesantren gaungkan semangat beragama dengan asyik

Kiai Kafa menjelaskan pendidikan pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk akhlak dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi santri dalam kehidupan bermasyarakat.

“Santri memiliki kelebihan dalam ilmu dan akhlak. Di pesantren ilmu itu diajarkan sekaligus diamalkan dalam kehidupan pengabdian,” kata dia..

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno menambahkan pesantren memiliki peran penting dalam membangun akhlak generasi bangsa.

Ia menilai pembinaan karakter tersebut hanya dapat dilakukan secara optimal melalui sistem pendidikan pesantren yang berlangsung sepanjang waktu.

“Misi suci akhlakul karimah adalah misi kenabian. Jadi, nilai ini ditanamkan secara kuat dalam kehidupan pondok pesantren,” ucap Suyitno.

Suyitno menerangkan sistem pendidikan pesantren memungkinkan pembinaan karakter berlangsung secara menyeluruh. Interaksi antara kiai, santri, asrama, dan masjid menciptakan lingkungan pendidikan yang berlangsung selama 24 jam.

“Pesantren merupakan pendidikan yang genuine di Indonesia. Pembinaan akhlak dan spiritual di pesantren berlangsung sepanjang waktu dan menjadi modal sosial intelektual bagi masa depan,” katanya.

Baca juga: Kemenag gelar Takjil Pesantren, bahas proyeksi santri masa depan

Pewarta: Asep Firmansyah
Editor: Nurul Hayat
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |