Sujud orang Aceh dan bara konflik sumber daya alam

22 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Ada sebuah ungkapan yang hidup di tengah masyarakat Aceh, "Di mana orang Aceh bersujud, di situlah sumber daya alam muncul." Kalimat itu bukan dalil agama ataupun fakta geologi. Ia adalah metafora yang lahir dari pengalaman sejarah.

Hampir setiap kali Aceh menemukan kekayaan alam baru, masyarakat justru dihadapkan pada babak baru pertarungan kepentingan, tarik-menarik kekuasaan, dan potensi konflik sosial.

Aceh seolah dikutuk oleh paradoksnya sendiri. Tanah yang melahirkan ulama, syuhada, dan peradaban Islam Nusantara juga menyimpan gas bumi, emas, batu bara, hutan tropis, dan keanekaragaman hayati yang menjadi incaran berbagai kepentingan ekonomi. Sayangnya, sejarah menunjukkan bahwa semakin besar nilai ekonomi suatu kawasan, semakin tinggi pula potensi konflik yang mengikutinya.

Pengalaman itu pernah terjadi di Arun pada penemuan ladang gas era 1970-an. Selama puluhan tahun, ladang gas Arun menjadi salah satu penghasil devisa terbesar Indonesia. Namun, bagi sebagian masyarakat Aceh, kemegahan industri LNG tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Ketimpangan pembangunan, minimnya efek berganda terhadap ekonomi daerah, serta rasa keterpinggiran menjadi bagian dari narasi panjang yang kemudian ikut memperbesar eskalasi konflik di Aceh.

Kini, sejarah seakan kembali menguji Aceh melalui temuan cadangan gas raksasa di kawasan Blok Andaman pada medio Mei 2024.Penemuan ini diproyeksikan menjadi salah satu proyek energi terbesar Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.

Pemerintah Aceh mendorong agar gas tersebut dihilirisasi melalui kawasan industri dan KEK Arun, sehingga tidak sekadar menjadi komoditas ekspor, tetapi mampu menciptakan industri, lapangan kerja, transfer teknologi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Aceh.

Perdebatan mengenai skema pengembangan dan hilirisasi menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi sekadar produksi migas, melainkan siapa yang memperoleh nilai tambah dari kekayaan tersebut.

Pertanyaan itu jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa triliun rupiah investasi yang masuk. Sebab sejarah mengajarkan bahwa konflik sumber daya hampir selalu berawal dari ketimpangan distribusi manfaat.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |