Studi: Diet Mediterania lebih baik bagi kesehatan jantung

2 days ago 17

Jakarta (ANTARA) - Pola makan Mediterania dan pola makan sesuai pedoman American Heart Association (AHA) dinilai lebih efektif menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dalam jangka panjang dibandingkan diet rendah lemak, menurut penelitian terbaru.

Melansir dari laman Eating Well pada Rabu, studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah American Journal of Clinical Nutrition tersebut menganalisis risiko penyakit kardiovaskular selama 20 tahun menggunakan data dari dua studi kesehatan jangka panjang di Amerika Serikat, yakni Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-Up Study.

Peneliti menggunakan metode “target trial emulation”, yaitu pendekatan yang memanfaatkan data observasional untuk mensimulasikan uji klinis acak. Mereka membandingkan tiga pola makan, yakni diet Mediterania, pola makan berdasarkan pedoman AHA 2020, dan diet rendah lemak.

Baca juga: Asupan serat berpengaruh pada kualitas tidur

Diet Mediterania menitikberatkan konsumsi minyak zaitun, kacang-kacangan, ikan, sayuran, serta polong-polongan. Sementara itu, pedoman AHA menganjurkan konsumsi buah, sayur, ikan, dan biji-bijian utuh. Adapun diet rendah lemak membatasi makanan yang mengandung lemak, termasuk makanan yang digoreng, kacang-kacangan, ikan berlemak, serta minyak untuk memasak atau saus salad.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok orang dengan risiko tinggi mengalami penyakit jantung, estimasi risiko penyakit kardiovaskular selama 20 tahun mencapai 35,9 persen pada mereka yang menjalani diet rendah lemak.

Sementara itu, risiko tersebut lebih rendah pada kelompok yang menjalani diet Mediterania, yakni sebesar 28,2 persen, dan 31,2 persen pada kelompok yang mengikuti pedoman AHA 2020.

Baca juga: Konsumsi alpukat dikaitkan dengan perbaikan pengelolaan gula darah

Peneliti juga menemukan bahwa kedua pola makan tersebut berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner, kematian akibat penyakit kardiovaskular, serta kematian dari berbagai penyebab. Namun, penelitian tidak menemukan penurunan risiko stroke yang bermakna.

Pada populasi umum, manfaat kedua pola makan tersebut tetap terlihat meski tidak sebesar pada kelompok berisiko tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa pola makan tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi masyarakat secara luas, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Meski demikian, peneliti menekankan bahwa studi ini merupakan penelitian observasional sehingga hanya dapat menunjukkan hubungan, bukan membuktikan bahwa pola makan menjadi penyebab langsung penurunan risiko penyakit.

Baca juga: Macam-macam minuman yang bisa bantu kendalikan tekanan darah

Selain itu, data pola makan diperoleh dari laporan peserta sehingga berpotensi mengandung kesalahan. Mayoritas peserta penelitian juga merupakan tenaga kesehatan berkulit putih di Amerika Serikat sehingga hasilnya belum tentu dapat diterapkan pada seluruh populasi.

Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menilai bahwa sekadar mengurangi konsumsi lemak kemungkinan tidak cukup untuk menjaga kesehatan jantung apabila tidak diikuti dengan pola makan bergizi seimbang.

Sebaliknya, pola makan yang menekankan konsumsi sayuran, polong-polongan, ikan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan minyak zaitun dinilai lebih berkontribusi dalam menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dibanding hanya berfokus pada pembatasan lemak.

Baca juga: Ahli gizi jelaskan manfaat dan keterbatasan tren diet 30-30-30

Baca juga: Camilan sehat ala Korea yang dapat dicoba saat diet

Penerjemah: Farika Nur Khotimah
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |