Jakarta (ANTARA) - Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) mengharapkan hasil riset yang didanai Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bisa menjawab kebutuhan nyata petani sawit di lapangan.
Ketua SPKS Sabarudin menyatakan Program Grant Riset Sawit telah menghasilkan ratusan penelitian dan puluhan paten namun manfaatnya dinilai belum sepenuhnya dirasakan oleh petani sawit, khususnya pekebun plasma maupun swadaya.
Selain itu, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, program riset sawit BPDP menghabiskan dana sekitar Rp921 miliar yang bersumber dari petani sawit.
"Karena itu, hasil riset yang dihasilkan seharusnya tidak berhenti pada publikasi ilmiah, prototipe, atau paten semata, tetapi harus dapat diterapkan secara luas untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha tani, kualitas hasil panen, serta kesejahteraan petani sawit," ujar Sabarudin.
Berdasarkan data BPDP, Program Grant Riset Sawit yang berjalan sejak 2015 telah mendukung 466 kontrak penelitian dengan melibatkan 109 lembaga penelitian, 1.873 peneliti, serta 383 mahasiswa.
Program tersebut juga menghasilkan 395 publikasi ilmiah dan 84 paten sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing industri kelapa sawit nasional.
Namun, menurut Ketua SPKS capaian tersebut seharusnya diikuti dengan peningkatan manfaat nyata bagi petani, terlebih, dana riset berasal dari BPDP yang sumber pembiayaannya juga berasal dari pungutan sektor sawit, termasuk kontribusi yang berkaitan dengan aktivitas perkebunan kelapa sawit.
Baca juga: SPKS minta pemerintah tak naikkan harga jual Minyakita
Baca juga: SPKS dorong percepatan PSR untuk perkuat sekor hulu
Dikatakannya riset yang dikembangkan melalui BPDP semestinya mampu mengatasi masalah yang dihadapi petani sawit misalnya terkait tantangan dalam memenuhi traceability yang berhubungan dengan kepatuhan terhadap EUDR, penguatan kelembagaan koperasi terutama pada perangkat pengelolaan koperasi, dan untuk peningkatan produktivitas kebun rakyat.
"Sedianya riset-riset itu bisa menghasilkan teknologi yang murah bagi petani dan bisa dimanfaatkan secara luas oleh para petani guna meningkatkan produktivitas kebunnya," ujarnyadi sela penyelenggaraan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 .
Ia menjelaskan hingga kini banyak petani masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses teknologi budi daya yang efisien dan terjangkau, salah satunya pemanfaatan pesawat nirawak (drone) untuk pemetaan lahan serta pendataan petani sawit .
Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan kebun, tetapi masih sulit dijangkau oleh sebagian besar petani karena tingginya biaya investasi.
Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah tuntutan peningkatan produktivitas sekaligus penerapan praktik perkebunan yang lebih berkelanjutan.
Selain itu, penerapan mekanisasi di perkebunan rakyat juga masih terbatas, berbagai teknologi yang telah berkembang di sektor perkebunan belum banyak diadopsi oleh petani karena faktor harga yang relatif mahal dan belum tersedianya skema pemanfaatan yang sesuai dengan kondisi pekebun kecil.
"Kami berharap hasil-hasil penelitian yang lahir melalui pendanaan BPDP tidak hanya memperkaya publikasi ilmiah atau menghasilkan paten, tetapi diwujudkan menjadi teknologi yang ekonomis, mudah diterapkan, dan mampu mempercepat peningkatan produktivitas serta kesejahteraan petani sawit," ujar Sabarudin.
Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP Mohammad Alfansyah di Jakarta, Rabu (15/7) mengatakan selama ini BPDP tidak hanya mendukung pengembangan produktivitas perkebunan, tetapi juga mendorong lahirnya berbagai inovasi yang memberikan nilai tambah bagi industri dan masyarakat.
“Inilah bukti bahwa sawit memiliki potensi yang sangat besar untuk mendukung pembangunan nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global,” ujar dia saat menyampaikan rencana kegiatan PERISAI 2026 yang digelar 20 - 21 Juli 2026.
Ia menambahkan bahwa sejak program pendanaan riset dilaksanakan, BPDP telah mendukung ratusan penelitian yang melibatkan berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia.
Hasil-hasil penelitian tersebut terus didorong agar tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dihilirisasikan menjadi teknologi maupun produk yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan dunia usaha.
Baca juga: SPKS minta pemerintah naikkan dana bagi hasil untuk daerah
Baca juga: SPKS berharap evaluasi menyeluruh dampak kenaikan biodiesel B50
Pewarta: Subagyo
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































