Jakarta (ANTARA) - Perusahaan industri nuklir milik Rusia, Rosatom, terus berupaya mencapai kesepakatan konkret terkait rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terapung di Indonesia.
Direktur Utama Rosatom Alexey Likhachev mengatakan pembangkit energi dengan menempatkan reaktor nuklir di atas kapal maupun tongkang menjadi relevan dan efisien bagi Indonesia dibandingkan jika membangun infrastruktur pembangkit listrik konvensional di darat.
Menurut Likhachev, dalam transkrip wawancara dari Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Kamis, Indonesia dan negara-negara lain ASEAN memiliki karakter geografis dengan didominasi wilayah kepulauan dan garis pantai yang panjang.
"Hingga saat ini, Rusia menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengoperasikan PLTN terapung komersial, yakni Akademik Lomonosov, sejak tahun 2020," katanya.
Baca juga: Trump keberatan jika Rusia atau China yang simpan uranium Iran
Akademik Lomonosov merupakan PLTN terapung di tongkang bernama "Akademisi Mikhail Lomonosov" dan beroperasi di Pelabuhan Pevek, Timur Jauh Rusia.
Upaya Rosatom untuk menjajaki kerja sama dengan Indonesia itu, menurut Likhachev, merupakan tindak lanjut atas ketertarikan Pemerintah Indonesia terhadap pemanfaatan teknologi nuklir dalam transisi energi.
"Indonesia menunjukkan ketertarikan yang sangat besar pada teknologi nuklir. Atas undangan Presiden (Prabowo) Subianto, Delegasi Rosatom mengunjungi Indonesia beberapa pekan lalu," kata Likhachev di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rusia-ASEAN di Kazan, Rusia.
Dia mengatakan fokus utama pembicaraan pihak Rosatom dengan Presiden Prabowo saat itu mengarah pada pembangunan reaktor nuklir terapung, dengan melibatkan pelaku bisnis Indonesia guna mendukung lokalisasi teknologi.
Baca juga: Rusia, China perkuat kerja sama fusi nuklir dan teknologi masa depan
Selain Indonesia, Rosatom juga mencatat lonjakan kebutuhan energi bersih secara masif di seluruh kawasan Asia Tenggara, seiring dengan pertumbuhan industri dan populasi yang diperkirakan segera menembus 700 juta jiwa.
ASEAN diproyeksikan menyerap hingga 25 persen pertumbuhan konsumsi listrik global dalam 10 tahun ke depan. Untuk memperkuat posisi di pasar regional, Rosatom juga terus mengeksplorasi kemitraan strategis dengan sejumlah negara anggota ASEAN lainnya.
Di Vietnam, Rusia mempercepat pengerjaan dua unit pembangkit listrik berbasis desain Leningrad serta Pusat Sains dan Teknologi Nuklir.
Rosatom juga baru saja menandatangani perjanjian antar-pemerintah dengan Laos terkait solusi nuklir darat berkapasitas kecil, serta merampungkan kerangka regulasi awal untuk pengadaan PLTN terapung dengan Filipina.
Baca juga: Temui Prabowo, Rosatom tawarkan kerja sama energi nuklir damai di RI
Likhachev memperkirakan total potensi pasar di kawasan Asia Tenggara dapat mencakup puluhan unit reaktor kecil dan sedikitnya lima hingga tujuh reaktor berskala gigawatt.
Sebagai bukti rekam jejak di iklim tropis, dia merujuk pada kesuksesan proyek PLTN 1.200 MW di Bangladesh, yang saat ini sedang dalam tahap uji coba operasional (commissioning).
Lebih lanjut, Likhachev menegaskan komitmen kerja sama kemitraan Rusia dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara tidak terbatas pada penyediaan pasokan energi listrik semata.
"Dengan semua negara ASEAN, kami memiliki proyek pelatihan personel dan kerja sama dalam penelitian ilmiah. Kami juga mendorong kerja sama dalam kompetensi digital, material tingkat lanjut, teknologi manufaktur aditif dan kedokteran nuklir," ujar Likhachev.
Baca juga: Rosatom pertimbangkan bangun pembangkit nuklir di Bulan
Pewarta: Yashinta Difa
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































