Rektor Atma Jaya: Kasus PTM meningkat menyerang usia muda

3 hours ago 2

Tangerang (ANTARA) - Rektor Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Prof Yuda Turana mengatakan kasus penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas terus meningkat, bahkan kini mulai menyerang usia muda.

Ia mengungkapkan dari data Kementerian Kesehatan, PTM menjadi penyebab utama kematian di Indonesia mencapai 71 persen dari seluruh kematian yang tercatat.

Baca juga: Dokter: Risiko penyakit tak menular naik, asuransi kesehatan penting

"Kondisi ini membuat kebutuhan akan dokter spesialis penyakit dalam semakin penting," kata Prof Yuda dalam keterangannya di Tangerang, Jumat.

Ia menjelaskan seiring meningkatnya kasus penyakit kronis di masyarakat, peran dokter spesialis penyakit dalam pun menjadi semakin strategis.

"Tidak hanya dalam pelayanan klinis, tetapi juga dalam edukasi masyarakat, pengembangan sistem kesehatan, hingga penelitian medis," ujarnya.

Unika Atma Jaya, lanjut Prof Yuda, telah menghadirkan program studi spesialis penyakit dalam di bawah Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK). Program ini berdiri sejak 15 Januari 2026 berdasarkan SK Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Departemen penyakit dalam FKIK didukung oleh dokter dari berbagai sub-spesialis, seperti ginjal, hipertensi, gastroenterohepatologi, kardiovaskular, geriatri, endokrin metabolik & diabetes, tropik infeksi, hingga alergi imunologi.

"Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang beragam, para pengajar ini membawa perspektif klinis yang komprehensif dalam proses pembelajaran," ujarnya.

Baca juga: Kemenkes ingatkan rokok faktor risiko beragam penyakit tidak menular

Baca juga: Cegah penyakit, pencantuman label peringatan produk tinggi GGL didesak

Mengenai metode pembelajaran, Prof Yuda menjelaskan mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga siap menghadapi situasi klinis.

Beberapa pendekatan yang digunakan, antara lain Case-Based Learning (CBL) untuk memahami kasus nyata, Evidence-Based Practice (EBP) agar setiap keputusan berbasis data ilmiah dan Interprofessional Learning (IPL) untuk melatih kolaborasi lintas bidang

"Kami juga menekankan pentingnya memiliki karakter care and compassion serta jiwa pelayanan sosial yang tinggi dan dipersiapkan menjadi praktisi yang beretika tinggi dalam merespons kebutuhan kesehatan masyarakat, khususnya pada tantangan kesehatan urban seperti sindroma metabolik," ujarnya.

Pewarta: Achmad Irfan
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |