PBD tanam 36.000 mangrove sebagai aksi mitigasi perubahan iklim

1 hour ago 2

Aimas (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya (Pemprov PBD) menanam sebanyak 36.000 bibit mangrove di lahan seluas 20 hektare di Kampung Maibo, Kabupaten Sorong sebagai aksi nyata mitigasi perubahan iklim.

Gubernur PBD Elisa Kambu di Aimas, Jumat, mengatakan penanaman mangrove ini menjadi bagian dari komitmen daerah dalam mendukung target nasional penurunan emisi gas rumah kaca, sekaligus menjaga kelestarian ekosistem pesisir yang memiliki peran penting sebagai penyerap karbon.

"Seluruh bibit mangrove yang disiapkan berjumlah 36.000 batang dan ditargetkan proses penanaman dapat diselesaikan dalam waktu satu hingga dua bulan," katanya.

Baca juga: Kemenhut fokus rehabilitasi mangrove di Papua Barat Daya

Dia menilai langkah ini penting mengingat kondisi lingkungan global yang semakin mengkhawatirkan akibat perubahan iklim, sehingga upaya rehabilitasi mangrove sangat strategis untuk menjaga stok karbon sekaligus melindungi wilayah pesisir dari ancaman bencana, seperti abrasi dan tsunami.

"Kita komitmen untuk berkontribusi pada target nasional penurunan emisi sebesar 3,7 hingga 4 persen, yang diturunkan ke tingkat provinsi melalui berbagai program lingkungan, termasuk rehabilitasi hutan dan pesisir," ujarnya.

Menurut dia, kondisi mangrove di wilayah Papua secara umum masih sangat baik, dengan sekitar 99 persen dalam kondisi rapat dan terjaga. Sementara satu persen sisanya menjadi fokus rehabilitasi melalui kegiatan penanaman seperti yang dilakukan di Kampung Maibo.

Pemprov PBD juga melakukan penanaman pohon daratan di sejumlah wilayah. Tercatat sekitar 85 hektare lahan di Kabupaten Maybrat telah direhabilitasi dengan dukungan anggaran mencapai Rp3,8 miliar. "Tahun ini program tersebut dilanjutkan dengan tahap pemeliharaan," katanya.

Selain itu, pemerintah juga membagikan bibit tanaman produktif, seperti mangga dan rambutan kepada kelompok masyarakat, gereja, dan sekolah untuk menggerakkan partisipasi sosial pada aksi penanaman pohon.

"Sekitar 16.000 bibit telah ditanam sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat sekaligus peningkatan ketahanan pangan," ucapnya.

Mantan Bupati Asmat dua periode itu menyampaikan apresiasi atas keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut.

Baca juga: Unipa gagas penelitian mangrove dan lamun mitigasi perubahan iklim

Baca juga: Empat kabupaten di Papua Barat jadi lokasi penanaman mangrove

Ia menekankan bahwa pelestarian lingkungan tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, penanaman mangrove dan pohon lainnya merupakan bentuk tanggung jawab bersama untuk memulihkan lingkungan yang terdampak aktivitas manusia, seperti penebangan hutan dan eksploitasi sumber daya alam.

Ia menyoroti pentingnya menjaga kawasan pesisir yang rawan bencana. Vegetasi mangrove dinilai mampu menjadi benteng alami dalam mengurangi dampak bencana, termasuk tsunami.

“Yang membanggakan adalah keterlibatan masyarakat yang begitu besar. Ini menunjukkan kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan sudah tumbuh dengan baik,” ujarnya.

Pewarta: Yuvensius Lasa Banafanu
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |