Moskow (ANTARA) -
Rafael Grossi, Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan kandidat Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berikutnya dalam sebuah artikel yang diterbitkan, Kamis, mengatakan bahwa organisasi internasional tersebut semakin kehilangan relevansi dan perlahan-lahan menuju kematian.
"Saya tidak melihat PBB dalam bahaya kematian dalam waktu dekat... Saya melihatnya lebih sebagai semacam kematian yang perlahan. PBB telah bergerak menuju ketidakrelevanan... tanpa memberikan kontribusi yang berarti terhadap krisis dan perang antarnegara yang terjadi baru-baru ini," katanya kepada Financial Times.
Grossi berbicara mengenai "rasa frustrasi" atas buruknya hasil yang dicapai organisasi tersebut di berbagai bidang lainnya, khususnya persoalan sosial dan upaya memerangi perubahan iklim.
Para anggota Dewan Keamanan PBB tengah melakukan pemungutan suara pendahuluan untuk memilih kandidat Sekretaris Jenderal dan merekomendasikan kepada Majelis Umum PBB, yang berdasarkan Piagam PBB secara resmi mengangkat Sekretaris Jenderal.
Masa jabatan kedua dan terakhir Sekretaris Jenderal PBB saat ini, Antonio Guterres, berakhir pada 31 Desember 2026.
Pada 31 Juli, Wakil Tetap Republik Demokratik Kongo untuk PBB sekaligus Presiden Dewan Keamanan PBB Zenon Mukongo Ngay mengatakan bahwa putaran pertama pemungutan suara tertutup terhadap kandidat Sekretaris Jenderal telah selesai.
Terdapat tujuh kandidat yang mencalonkan diri untuk jabatan tersebut, yakni Michelle Bachelet dari Chile, Maria Fernanda Espinosa Garces dari Ekuador, Rafael Mariano Grossi dari Argentina, Rebeca Grynspan Mayufis dari Kosta Rika, Olara Otunnu dari Uganda, Carolyn Rodrigues-Birkett dari Guyana, dan Macky Sall dari Senegal.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: DK PBB tuntaskan dialog informal dengan tiga kandidat Sekjen PBB
Baca juga: Sekjen PBB sebut nilai-nilai multilateralisme kian tergerus
Penerjemah: Katriana
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































