Psikolog ingatkan efek negatif media sosial terhadap perilaku remaja

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) -

Psikolog anak Prof. Dr. Rose Mini Agoes Salim, M.Psi., Psikolog mengingatkan bahwa kebiasaan menggunakan gawai dan mengakses platform media sosial secara berlebihan bisa berdampak negatif terhadap perilaku remaja.

Ketika dihubungi ANTARA pada Jumat (13/3), ia menyampaikan bahwa algoritma platform digital membuat remaja yang aktif menggunakan media sosial berulang kali terpapar konten yang relevan dengan minatnya.

"Kalau dia senang gim, maka yang muncul terus gim. Kalau belanja, yang muncul terus belanja. Akhirnya dunianya hanya itu-itu saja," katanya.

Menurut dia, paparan konten yang demikian juga bisa membuat remaja sulit melepaskan diri dari layar dan berisiko mengalami ketergantungan.

Di samping itu, ia mengemukakan, kemudahan transaksi digital yang dapat memicu munculnya perilaku konsumtif pada remaja.

"Mereka tahu cara membelanjakan, tapi tidak tahu bagaimana mencari uangnya. Karena semua terasa mudah dan tidak terlihat," katanya.

Menurut dia, keadaan itu dapat memicu perilaku impulsif pada remaja yang mengakses platform digital tanpa bekal edukasi dan pengawasan dari orang tua.

Baca juga: Penggunaan media sosial bisa pengaruhi perkembangan psikologis remaja

Prof. Rose menekankan pentingnya orang tua mengajari anak dan remaja mengatur penggunaan gawai, misalnya membatasi penggunaan gawai untuk keperluan sekolah dan kegiatan yang produktif.

"Yang perlu diajarkan adalah bagaimana menahan diri, bagaimana mengontrol penggunaan gadget supaya tidak berlebihan," katanya.

Dia mengemukakan, orang tua tetap perlu mendampingi dan mengawasi penggunaan platform digital oleh anak-anak yang memasuki usia pra-remaja dan remaja.

Ia menjelaskan bahwa aspek perkembangan remaja seperti keterampilan sosial serta kemampuan berpikir kritis dan kreatif perlu terus diasah.

Kalau remaja menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengakses platform digital, maka perkembangan kemampuan dan keterampilan tersebut bisa tidak optimal.

Baca juga: Siasat untuk menekan dampak penggunaan media sosial pada remaja

Psikolog anak Alva Paramitha, S.Psi., Psikolog, BFRP menjelaskan bahwa ketertarikan anak dan remaja terhadap media sosial berkaitan dengan sistem kerja otak dan perkembangan psikologis mereka.

Menurut dia, sistem kerja otak anak dan remaja masih berkembang dan sensitif terhadap stimulasi cepat.

"TikTok dan reels Instagram dirancang dengan video pendek, scroll tanpa henti, dan notifikasi. Itu memberi instant reward sehingga memicu keinginan untuk terus melihat konten berikutnya," kata Alva kepada ANTARA pada Jumat.

Di samping itu, remaja yang sedang dalam fase mencari identitas membutuhkan pengakuan dari lingkungan dan merasa bisa mendapatkannya di platform media sosial.

"Ketika mendapat banyak likes atau komentar, muncul rasa diterima. Itu bentuk validasi yang membuat mereka ingin terus aktif," ujarnya.

Dia juga mengatakan bahwa algoritma media sosial menyajikan konten yang relevan dengan minat penggunanya secara berkelanjutan, dan ini membuat anak maupun remaja susah berhenti menggunakannya.

"Anak merasa kontennya menarik dan dekat dengan dirinya. Itu membuat mereka betah dan sulit berhenti," kata dia.

Pemerintah memberlakukan peraturan untuk membatasi anak-anak berusia di bawah 16 tahun mengakses platform digital berisiko tinggi guna melindungi mereka dari paparan konten-konten yang bisa berdampak buruk pada mereka.

Psikolog menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung penerapan peraturan yang ditujukan untuk melindungi anak-anak di ruang digital.

Baca juga: Pemerintah batasi akses anak di bawah 16 tahun ke platform digital

Baca juga: Psikolog: Orang tua harus jadi contoh dalam mengurangi pemakaian gawai

Pewarta: Farika Nur Khotimah
Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |