Jakarta (ANTARA) - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebutkan perempuan memiliki peran terhadap penurunan jumlah Rukun Warga (RW) kumuh di Jakarta, yang semula 445 RW pada tahun 2017 menjadi 211 RW pada tahun 2026.
"RW kumuh menjadi 211. Siapa yang berperan untuk itu? Jumantik (juru pemantau jentik), PKK (pemberdayaan kesejahteraan dan keluarga), dasa wisma. Dan ini ujung tombaknya ini perempuan semua," kata dia di Balai Kota Jakarta, Kamis.
Penurunan jumlah RW kumuh sebesar 52,58 persen tersebut menjadi capaian penting dalam upaya peningkatan kualitas permukiman warga. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tetap akan memperdalam data agar intervensi program penataan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.
Pramono mengatakan penanganan RW kumuh ke depan akan diprioritaskan pada wilayah dengan kepadatan tinggi, terutama Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Kawasan seperti Tambora menjadi salah satu perhatian karena memiliki kompleksitas permukiman yang tinggi dan membutuhkan intervensi yang terukur.
Mengenai peran perempuan di Jakarta, Pramono menyebut bahwa mereka berkontribusi pada kemajuan Jakarta yang dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi ibu kota pada triwulan I-2026 tumbuh 5,59 persen secara tahunan.
"Enggak mungkin itu terjadi tanpa peran perempuan-perempuan yang ada di OPD (organisasi perangkat daerah) DKI Jakarta. Saya yakin dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain, OPD DKI Jakarta perempuannya lebih banyak daripada tempat lain," kata dia.
Dalam kesempatan itu, dia menyampaikan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Jakarta tahun 2025 yang mencapai 95,5, termasuk salah satu provinsi tertinggi, menunjukkan penyamarataan akses kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk berkontribusi dalam pembangunan dan kesempatan meningkatkan kualitas hidup.
Berbicara gender, Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta melaporkan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Jakarta pada 2025 tercatat sebesar 0,144, dan menjadi yang terendah secara nasional, yakni tercatat 0,402.
IKG mengukur ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang dilihat dari tiga dimensi, yaitu kesehatan reproduksi, pemberdayaan dan keterlibatan di pasar tenaga kerja.
IKG bergerak dari 0-1. Semakin kecil nilai IKG, maka semakin rendah tingkat ketimpangan gender yang terjadi, atau ketimpangan menjadi semakin baik antara laki-laki dan perempuan.
Baca juga: DKI jadi provinsi pertama yang berkolaborasi dengan BPS data RW kumuh
Baca juga: Pemprov DKI akan perbaiki 55 RW kumuh
Baca juga: DPRD minta DKI segera tuntaskan penataan RW kumuh di Jakarta
Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Syaiful Hakim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































