Perpusnas: Pustakawan miliki jenama baru pemelajar sepanjang hayat

1 day ago 4
Hari Pustakawan Indonesia sebagai momentum untuk memperkuat profesionalisme, memperluas kolaborasi, dan terus meningkatkan kompetensi.

Jakarta (ANTARA) - Perpustakaan Nasional (Perpusnas) memanfaatkan momentum Hari Pustakawan Indonesia 2026 untuk memperkenalkan jenama baru pustakawan sebagai pemelajar sepanjang hayat (lifelong learner).

Melalui langkah tersebut, Perpusnas menegaskan peran pustakawan sebagai penggerak literasi, penjaga pengetahuan, sekaligus agen pembelajaran sepanjang hayat di tengah perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kecerdasan buatan (AI).

"Pustakawan hari ini bukan lagi dipandang sebagai penjaga rak buku. Mereka adalah penghubung masyarakat dengan pengetahuan, pendamping belajar sepanjang hayat, sekaligus penggerak lahirnya budaya literasi. Oleh karena itu, Hari Pustakawan Indonesia menjadi momentum untuk semakin menguatkan peran pustakawan sebagai agen perubahan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia," ujar Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Menurut Aminudin, transformasi profesi pustakawan harus diawali dengan perubahan cara pandang terhadap profesi tersebut. Jenama baru pustakawan sebagai pemelajar sepanjang hayat menjadikan sumber daya manusia yang memiliki profesi tersebut terpacu menjadi pribadi yang terus belajar, berkembang, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Kami ingin membangun jenama baru bahwa pustakawan adalah pemelajar sepanjang hayat yang terus belajar, berkembang, dan memberi manfaat bagi masyarakat. Profesi ini harus dikenal bukan karena menjaga buku, melainkan karena menghidupkan ilmu pengetahuan," katanya.

Sebagai wujud transformasi tersebut, Perpusnas mendorong penguatan empat karakter utama pustakawan, yaitu selalu terdepan dalam memperoleh ilmu pengetahuan baru, hadir membantu masyarakat, menjadi pewaris peradaban, serta menjadi pemengaruh yang menginspirasi budaya belajar di tengah masyarakat.

Keempat karakter tersebut mencerminkan transformasi peran pustakawan yang tidak lagi terbatas sebagai pengelola koleksi, tetapi berkembang menjadi fasilitator pembelajaran, penjaga memori kolektif bangsa, sekaligus komunikator pengetahuan yang mampu menjawab tantangan era digital.

"Bangsa yang ingin maju membutuhkan pustakawan yang selalu belajar. Ketika pustakawan berhenti belajar, perpustakaan akan kehilangan relevansinya. Sebaliknya, ketika pustakawan terus bertumbuh, perpustakaan akan selalu menjadi rumah pengetahuan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat," ucap Aminudin.

Penguatan sumber daya manusia kepustakawanan menjadi fondasi penting transformasi profesi pustakawan. Data Pusat Pembinaan Pustakawan Perpusnas per Juli 2026 mencatat terdapat 5.593 pustakawan di seluruh Indonesia, yang sebagian besar merupakan pustakawan dan tenaga perpustakaan berlatar belakang ilmu perpustakaan (74,95 persen), dengan komposisi jabatan yang didominasi Pustakawan Ahli Pertama dan Pustakawan Ahli Muda.

Perpusnas juga terus memperkuat kehadiran pustakawan di tengah masyarakat melalui Program Hari Bakti Perpusnas, yang mendorong pustakawan memberikan pendampingan kepada perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan desa/kelurahan, hingga taman bacaan masyarakat.

Aminudin mengajak seluruh pustakawan Indonesia menjadikan Hari Pustakawan Indonesia sebagai momentum untuk memperkuat profesionalisme, memperluas kolaborasi, dan terus meningkatkan kompetensi.

"Ketika pustakawan terus meningkatkan kapasitas dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat, sesungguhnya kita sedang membangun fondasi Indonesia yang lebih cerdas, berbudaya, dan berdaya saing. Karena pada akhirnya, perpustakaan hadir demi martabat bangsa," tutur Aminudin.

Baca juga: Mendikdasmen sebut pustakawan jadi ujung tombak penguatan literasi

Baca juga: Kebiasaan membaca perlu menjadi identitas bangsa

Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |