Tapin, Kalsel (ANTARA) - Di dalam lorong gelap Gua Batu Hapu, suara langkah kaki perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian. Di sela dinding batu yang lembap dan langit-langit gua yang menjulang, kelelawar bergelantungan dalam diam, menunggu malam datang sebelum meninggalkan persembunyiannya.
Suasana itu menjadi bagian dari kehidupan tersembunyi yang tersimpan di Situs Gua Batu Hapu, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Gua yang berada dalam kawasan Meratus UNESCO Global Geopark tersebut tidak hanya menyimpan bentang batu kapur dengan ornamen alami, tetapi juga menjadi habitat bagi satwa yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Keberadaan kelelawar di dalam gua mulai terpetakan setelah peninjauan keanekaragaman hayati yang dilakukan Badan Pengelola Geopark Meratus. Pengamatan awal menemukan tiga jenis kelelawar yang memanfaatkan ruang dalam Gua Batu Hapu sebagai habitat, yakni Hipposideros larvatus, Taphozous melanopogon, dan Taphozous longimanus.
Temuan itu memperlihatkan sisi lain dari kawasan karst yang selama ini dikenal melalui keindahan geologinya. Di balik batuan yang terbentuk melalui proses alam panjang, terdapat kehidupan yang bergantung pada kondisi gua, mulai dari kelembapan, ruang perlindungan, hingga ketersediaan sumber makanan.
Ahli biologi Badan Pengelola Geopark Meratus, Ramadhan Jayusman, mengatakan monitoring ini menjadi langkah awal untuk memahami keanekaragaman kelelawar di Gua Batu Hapu. Menurut dia, penelitian lanjutan perlu mempertimbangkan waktu pengamatan, musim, dan pola aktivitas satwa.
Monitoring awal tersebut membuka peluang mengungkap lebih jauh hubungan antara ekosistem karst, kelelawar, dan kehidupan yang berkembang di dalam gua.
Dari perut Meratus, Gua Batu Hapu mengajarkan bahwa nilai sebuah bentang alam tidak hanya terletak pada batuan penyusunnya, tetapi juga pada kehidupan yang tumbuh dan bertahan di dalamnya.
Baca juga: Warisan purba Lembah Kahung
Penjaga ekosistem
Saat malam turun di kawasan karst Meratus, kelelawar mulai keluar dari persembunyiannya. Dari celah-celah batu Gua Batu Hapu, satwa nokturnal itu terbang mencari makan, menjalankan peran ekologis yang selama ini nyaris luput dari perhatian manusia.
Di dalam ekosistem gua, kelelawar bukan sekadar penghuni ruang gelap. Aktivitasnya menjadi bagian dari keseimbangan alam, termasuk membantu mengendalikan populasi serangga di sekitar habitatnya.
Beberapa ekor kelelawar bergelantungan di dinding gua Situs Geopark Meratus Gua Batu Hapu di Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. ANTARA/Tumpal Andani Aritonang.Monitoring Badan Pengelola Geopark Meratus menemukan tiga jenis kelelawar di Gua Batu Hapu, masing-masing dengan karakteristik dan kemampuan adaptasi yang berbeda.
Salah satunya Hipposideros larvatus yang memiliki struktur daun hidung (noseleaf) yang mendukung sistem ekolokasi. Kemampuan ini memungkinkannya mengenali lingkungan dan menemukan mangsa, terutama serangga, meski dalam kondisi minim cahaya.
Sementara itu, Taphozous melanopogon berciri rambut gelap menyerupai janggut pada dagu dan tenggorokan serta memanfaatkan ruang terlindung di dalam gua sebagai tempat beristirahat. Adapun Taphozous longimanus memiliki sayap yang relatif panjang sehingga lebih lincah berpindah dan mencari makan di sekitar habitatnya.
Perbedaan karakter tersebut menunjukkan bahwa setiap jenis kelelawar memiliki cara adaptasi tersendiri dalam memanfaatkan ruang hidup di Gua Batu Hapu.
Ramadhan Jayusman menjelaskan kajian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui komposisi spesies, kondisi populasi, pola aktivitas, serta pemanfaatan habitat kelelawar di Gua Batu Hapu.
Data tersebut penting untuk memahami peran kelelawar dalam ekosistem kawasan, sekaligus menjadi dasar dalam menentukan langkah pengelolaan dan perlindungan habitatnya.
Di sekitar tempat koloni kelelawar beristirahat, guano atau kotoran kelelawar yang terkumpul menjadi bagian dari siklus kehidupan lain di dalam gua. Material organik tersebut mendukung keberadaan organisme kecil yang kemudian menjadi bagian dari rantai makanan di lingkungan bawah permukaan.
Kehidupan di Gua Batu Hapu menunjukkan keterkaitan erat antara kelelawar, organisme kecil, batuan, dan kelembapan dalam menjaga keseimbangan ekosistem karst. Jauh dari hiruk-pikuk permukaan, kelelawar berperan diam-diam sebagai penjaga kelangsungan kehidupan di bentang alam tersebut.
Baca juga: BRIDA Kalsel usul Kebun Raya Banua pusat interpretasi Geopark Meratus
Baca juga: "Gua Batu Hapu", cahaya putih warisan geologi dari perut Meratus
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































