Jakarta (ANTARA) - Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyatakan bahwa sebanyak 88 persen pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) informal lebih memilih menggunakan dana pribadi dari pada kredit perbankan.
"Kalau dilihat dari survei, mereka itu (UMKM) lebih suka dengan dana sendiri," kata Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi Perbankan Perbanas Aviliani di Jakarta, Kamis.
Aviliani mengatakan bahwa penggunaan dana pribadi untuk pembiayaan oleh UMKM informal juga berpengaruh pada penyaluran kredit dari perbankan.
Ia menjelaskan beberapa tahun ini dari hasil riset Perbanas menunjukkan adanya perlambatan pertumbuhan kredit UMKM dan bahkan sempat mengalami kontraksi.
Menurut dia, dari survei Perbanas bahwa penggunaan dana pribadi pelaku UMKM mencapai 88 persen, sementara 12 menggunakan dana eksternal yaitu dari perbankan mencakup 49 persen, teman atau kerabat 9 persen, micro finance 32 persen dan lainnya 11 persen.
Baca juga: Perbanas luncurkan UMKM Center untuk tingkatkan UMKM agar naik kelas
Baca juga: Perbanas: Bank tetap solid di tengah dinamika ekonomi global-domestik
"Untuk dana eksternal 12 persen, sedangkan yang dana pribadi itu sebesar 88 persen," ujarnya.
Pembiayaan perbankan maupun non-bank bagi UMKM formal lanjut Aviliani juga masih termasuk kecil, di mana dari data yang ada 62 persen menggunakan dana pribadi.
"Jadi tidak hanya bank saja, non-bank pun masih kecil. Kita berharap sebenarnya dari sisi suplai itu sudah siap, tapi dari sisi demand-nya yang memang harus dibangun," katanya.
Untuk itu, Perbanas meluncurkan UMKM Center untuk meningkatkan UMKM agar dapat naik kelas dalam berbagai lini.
UMKM Center sendiri sebagai platform kolaborasi untuk membantu UMKM naik kelas melalui penguatan kapasitas usaha peningkatan akses pembiayaan, perluasan akses pasar dan akselerasi digitalisasi usaha.
Baca juga: Perbanas kaji perumusan asuransi siber untuk lindungi sektor keuangan
Baca juga: Perbanas sebut kolaborasi bank-P2P lending dorong pertumbuhan kredit
Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































