Jakarta (ANTARA) - Pengamat pertanian Khudori menilai pemerintah perlu menyusun peta jalan (roadmap) yang jelas dan rinci dalam pengembangan industri bioetanol agar target penerapan bensin campuran etanol 10 persen (E10) dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Menurut dia, peta jalan tersebut harus memuat rencana kerja yang jelas, strategi pencapaian target, mekanisme evaluasi, hingga pembagian peran setiap pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program.
"Perlu peta jalan detail yang menuntun rencana kerja, cara mencapai, evaluasi hingga outcome," kata Khudori dalam sebuah pernyataan yang diterima di Jakarta, Jumat.
Ia mengatakan selain menyusun peta jalan, pemerintah juga perlu memastikan pembagian tugas yang jelas antarinstansi serta konsistensi pelaksanaan di lapangan.
Menurut dia, tantangan terbesar berbagai program pemerintah selama ini bukan hanya pada penyusunan target, melainkan integrasi kebijakan dan eksekusi yang konsisten.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya pemerintah mempercepat pengembangan bioetanol berbasis tebu untuk mendukung implementasi E10.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan 30 hingga 50 pabrik bioetanol guna mengurangi ketergantungan impor bensin sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Pemerintah juga tengah merevisi Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel).
Revisi tersebut antara lain akan mengakomodasi penambahan kapasitas fasilitas pencampuran (blending) bioetanol.
Meski demikian, Khudori mengingatkan pengembangan bioetanol juga memerlukan kepastian pasokan bahan baku.
Baca juga: Pertamina siapkan infrastruktur guna dukung pengembangan bioetanol
Baca juga: Pengamat: Pengembangan bioetanol berbasis tebu butuh kepastian pasar
Menurut dia, tetes tebu yang selama ini menjadi bahan baku utama bioetanol juga dimanfaatkan oleh berbagai industri lain, seperti industri bumbu masak, alkohol, dan kosmetik.
"Bisakah dipastikan semua tetes, terutama milik swasta, akan disetor untuk program bahan bakar nabati dan diolah menjadi etanol? Bagaimana jika tetes tidak mungkin digeser? Apa alternatifnya?" ujar Khudori.
Sementara itu, Pertamina New & Renewable Energy saat ini mengembangkan bioetanol dari berbagai bahan baku, tidak hanya tetes tebu, tetapi juga nira aren, sorgum, singkong, hingga jagung.
Saat ini penerapan bensin campuran etanol lima persen (E5) masih dilakukan secara terbatas di sekitar 170 SPBU Pertamina di Jawa Timur dan Jakarta.
CEO Pertamina New & Renewable Energy John Anis memperkirakan Indonesia membutuhkan sekitar 20 hingga 30 pabrik bioetanol baru dalam dua tahun ke depan untuk mendukung perluasan implementasi bahan bakar campuran etanol.
Baca juga: DEN: Penggunaan tetes tebu untuk bioetanol agar tak ganggu pangan
Baca juga: Pertamina bangun fasilitas pengembangan bioetanol di Glenmore
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































