Pemerintah luncurkan label gizi kuatkan edukasi tentang konsumsi sehat

2 weeks ago 12

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah resmi meluncurkan kebijakan tentang pencantuman label gizi atau Nutri-level, sebagai upaya mengedukasi masyarakat tentang konsumsi makanan dan minuman yang sehat serta mengurangi beban penyakit tak menular karena konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) berlebih.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan di Jakarta, Selasa, kebijakan ini melengkapi Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai media untuk mengedukasi publik, agar ke depannya dapat memilih makanan yang sesuai kebutuhan nutrisinya untuk dikonsumsi.

Dia mengatakan bahwa konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebihan menjadi penyebab penyakit yang kematiannya tinggi dan juga biayanya tinggi.

"Risetnya sudah banyak di seluruh dunia, standarnya juga WHO juga sudah kasih. Beban-beban penyakit ini yang besar, daripada kita mengobatinya sesudah sakit, lebih baik kita mencegah agar tetap sehat. Dan bagaimana cara mencegah? Itu tadi, kita harus mengatur konsumsi makan kita, terutama gula garam lemak," katanya.

Terlebih, katanya, hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan angka diabetes pada anak yang cukup tinggi. Meski dia tidak mengetahui secara pasti angkanya, namun dia menilai bahwa tidak seharusnya anak-anak menderita diabetes.

Baca juga: Satgas Yonif 136/TS layani CKG di Kampung Lima-Lima Puncak Jaya

Dia menjelaskan bahwa beban pembiayaan yang harus dibayarkan BPJS Kesehatan untuk masalah-masalah kesehatan terkait konsumsi GGL berlebih, seperti hipertensi dan diabetes, mencapai sekitar Rp 50 triliun.

Dia berharap kebijakan tersebut juga dapat memulai sebuah gerakan untuk hidup sehat. Menurutnya ketika sesuatu dibuat menjadi sebuah gerakan, maka lebih banyak yang mengikutinya. Contohnya seperti olahraga lari.

"Tiba-tiba lari itu jadi FOMO (fear of missing out) aja. Jadi cool, jadi gaya, jadi keren. Nah, kita lihat kalau program kesehatan itu pendekatannya lebih ke gerakan, lebih cool, lebih gaya, lebih lifestyle, lebih keren, itu adopsinya jauh lebih baik dibandingkan kita paksa sebagai program," katanya

Begitupun dengan minum kopi. Saat dulu kopi dengan gula atau susu dianggap lebih gaya, katanya, kini minum kopi tanpa gula seperti espresso atau americano lebih keren.

Terkait implementasi pada industri, saat ini masih dalam masa transisi, kira-kira setahun atau dua tahun, namun detailnya akan ada saat aturannya dikeluarkan.

"Sekarang, untuk sementara kita ada masa transisi, nantinya pencantuman nutri-level ini masih kita minta mereka lakukan sendiri. Nanti secara bertahap akan kita wajibkan, mereka harus lakukan," katanya.

Adapun kebijakan tersebut, kata Budi, dikoordinasikan bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, BPJS Kesehatan, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca juga: Kesuksesan CKG bukan hanya angka peserta tapi juga "follow up"

Pewarta: Mecca Yumna Ning Prisie
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |