Jakarta (ANTARA) - Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Ma'shum Faqih menyatakan perbaikan tata kelola kelembagaan NU dalam rangka menghadapi dinamika internal perlu dimulai dari penguatan tata krama atau adab organisasi.
Mashum menegaskan, hal tersebut menjadi salah satu rekomendasi penting dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Al Falah, Ploso, Kediri, Jawa Timur, pada 20-21 Juni 2026.
"NU dibangun oleh para ulama pesantren. Oleh karena itu, tata kelola organisasi harus berjalan beriringan dengan tata krama organisasi. Sistem yang baik harus ditopang oleh adab yang baik," kata Gus Ma'shum di Jakarta, Minggu.
Menurutnya, NU perlu menghidupkan kembali tradisi adab itu yang selama ini menjadi ciri khas pesantren dan fondasi utama kehidupan jam'iyah (masyarakat NU).
Ia juga mengemukakan, tradisi musyawarah, penghormatan kepada ulama, saling menghargai dalam perbedaan pendapat, serta kesadaran terhadap fungsi masing-masing unsur organisasi merupakan warisan penting yang harus dijaga.
Baca juga: Asrorun Ni'am ingatkan NU senantiasa rawat persatuan
Gus Ma'shum mengutip ajaran Hadlratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari yang menyatakan bahwa tauhid melahirkan iman, iman melahirkan syariat, dan syariat melahirkan adab. Oleh karena itu, adab menempati posisi yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim.
"Hadlratussyaikh mengajarkan bahwa adab merupakan puncak dari bangunan tauhid, iman, dan syariat. Nilai itulah yang selama ini menjadi kekuatan pesantren dan perlu terus dihadirkan dalam kehidupan organisasi," ujarnya.
Selain penguatan tata krama organisasi, Gus Ma'shum juga mengusulkan penguatan pesantren sebagai salah satu fokus utama agenda NU ke depan karena pesantren menjadi jantung NU sebagai pusat kaderisasi ulama, penjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus sumber utama kekuatan organisasi sejak didirikan para muassis.
"NU memiliki tata kelola organisasi yang khas. Ketika seluruh unsur organisasi berjalan sesuai fungsi masing-masing dengan dilandasi adab dan saling menghormati, maka organisasi akan semakin kuat dan memperoleh kepercayaan warga," katanya.
Gus Ma'shum juga menyampaikan, berbagai kebijakan organisasi harus berpijak pada kebutuhan nyata pesantren serta memperkuat peran pesantren dalam pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kaderisasi ulama.
Baca juga: Gus Lilur: Muktamar NU 2026 momentum tentukan arah organisasi
"Menjaga adab dan memperkuat pesantren adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dari pesantren, NU belajar tentang ilmu, perjuangan, dan adab. Nilai-nilai itulah yang harus terus menjadi fondasi organisasi," ucap Gus Ma'shum.
Pewarta: Lintang Budiyanti Prameswari
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































