Jakarta (ANTARA) - Gunung Gede menjadi salah satu destinasi pendakian favorit di Indonesia, terutama bagi pendaki pemula yang ingin merasakan pengalaman mendaki gunung dengan medan yang relatif bersahabat. Berlokasi di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), gunung setinggi 2.958 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini berada di wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi, Jawa Barat.
Selain menawarkan panorama alam berupa hutan hujan tropis, air terjun, kawah, hingga hamparan bunga edelweiss di Alun-Alun Suryakencana, Gunung Gede juga memiliki akses yang relatif mudah dijangkau dari Jakarta dan sekitarnya. Tidak heran jika gunung ini menjadi salah satu tujuan pendakian paling ramai setiap musim liburan.
Meski demikian, pendakian ke Gunung Gede tetap membutuhkan persiapan yang matang. Mulai dari mengurus izin masuk kawasan konservasi, memilih jalur pendakian, menyiapkan perlengkapan, hingga menjaga kondisi fisik perlu dilakukan agar perjalanan berlangsung aman dan nyaman.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango sendiri merupakan salah satu taman nasional tertua di Indonesia yang diresmikan pada 1980. Kawasan konservasi seluas sekitar 21.975 hektare ini menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna serta menaungi dua gunung berapi, yaitu Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Gunung Pangrango (3.019 mdpl).
Sebelum merencanakan pendakian, berikut panduan yang perlu diketahui, mengutip Kementerian Kehutanan dan sumber lain.
Baca juga: Cara cegah hipotermia saat mendaki gunung: Perlengkapan yang perlu ada
Wajib memiliki SIMAKSI
Setiap pendaki yang ingin memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango diwajibkan memiliki Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Dokumen ini merupakan izin resmi yang memberikan hak kepada pendaki untuk memasuki kawasan taman nasional, melakukan pendakian, hingga berkemah.
Kepemilikan SIMAKSI bukan sekadar persyaratan administrasi. Data pendaki yang tercatat akan memudahkan proses pencarian maupun evakuasi apabila terjadi keadaan darurat. Selain itu, sistem perizinan juga membantu pengelola taman nasional mengendalikan jumlah pendaki setiap hari sehingga kelestarian ekosistem tetap terjaga.
Pendaki yang tidak memiliki SIMAKSI dianggap melakukan pendakian secara ilegal dan berisiko dikenai sanksi, termasuk masuk dalam daftar hitam pendakian di Gunung Gede.
Proses pengajuan SIMAKSI dilakukan melalui sistem pemesanan daring Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan memilih tanggal pendakian, jalur yang akan digunakan, mengisi data diri sesuai identitas resmi, kemudian menyelesaikan pembayaran. (Booking Online SIMAKSI Gunung Gede di sini)
Biaya SIMAKSI bervariasi, bergantung pada kategori pendaki serta hari kunjungan, dengan kisaran sekitar Rp52.000 hingga Rp92.000 per orang.
Baca juga: Pemula mesti tahu batas kemampuan diri sebelum naik gunung
Memilih jalur pendakian yang sesuai
Gunung Gede memiliki tiga jalur pendakian utama yang dapat dipilih sesuai pengalaman dan kemampuan fisik pendaki.
Jalur Cibodas menjadi rute paling populer sekaligus paling direkomendasikan bagi pemula. Jalur ini memiliki penanda yang jelas, fasilitas yang cukup lengkap, serta menawarkan sejumlah objek wisata alam seperti air terjun dan kawasan hutan yang masih terjaga.
Alternatif lainnya adalah Jalur Gunung Putri. Jalur ini memiliki karakter medan yang lebih menanjak dibandingkan Cibodas, tetapi masih dapat dilalui oleh pendaki pemula yang memiliki kondisi fisik yang baik.
Sementara itu, Jalur Salabintana dikenal sebagai jalur terpanjang dan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi. Karena itu, jalur ini lebih disarankan bagi pendaki yang telah memiliki pengalaman.
Siapkan perlengkapan pendakian
Membawa perlengkapan yang sesuai menjadi salah satu faktor penting untuk menunjang keselamatan selama pendakian.
Peralatan utama yang perlu disiapkan antara lain tenda sesuai kapasitas tim, carrier berukuran sekitar 50 hingga 60 liter, sleeping bag, serta matras untuk menjaga suhu tubuh saat beristirahat.
Pendaki juga dianjurkan menggunakan jaket gunung yang mampu menahan angin dan hujan, sepatu gunung dengan daya cengkeram yang baik, headlamp untuk pendakian dini hari, trekking pole guna membantu menjaga keseimbangan, pakaian ganti yang disimpan dalam kantong kedap air, serta jas hujan atau ponco sebagai antisipasi perubahan cuaca.
Untuk kebutuhan logistik, bawalah kompor portabel beserta bahan bakarnya, alat memasak, perlengkapan makan, air minum yang cukup, serta makanan praktis dan tinggi energi.
Perlengkapan keselamatan seperti kotak P3K, peluit, senter cadangan, power bank, hingga kantong sampah juga tidak boleh dilupakan.
Bagi pendaki pemula yang belum memiliki perlengkapan lengkap, penyewaan alat di basecamp pendakian dapat menjadi alternatif yang lebih praktis dan ekonomis.
Persiapkan kondisi fisik
Pendakian Gunung Gede tetap membutuhkan stamina yang baik meskipun sering direkomendasikan bagi pemula. Oleh karena itu, latihan fisik beberapa minggu sebelum pendakian sangat disarankan agar tubuh terbiasa melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi.
Selain kesiapan fisik, pendaki juga perlu mempersiapkan mental karena cuaca di kawasan pegunungan dapat berubah dengan cepat. Jalur yang menanjak, suhu udara yang rendah, hingga perjalanan yang memakan waktu berjam-jam memerlukan konsentrasi dan daya tahan yang baik.
Baca juga: Balai TNGR ingatkan pendaki lebih waspada saat mendaki di musim hujan
Pilih waktu pendakian yang tepat
Musim kemarau, terutama pada Mei hingga September, umumnya menjadi waktu terbaik untuk mendaki Gunung Gede karena kondisi cuaca lebih stabil dan jalur pendakian cenderung lebih kering.
Sebaliknya, pada musim hujan risiko jalur licin, kabut tebal, dan cuaca ekstrem menjadi lebih tinggi sehingga pendaki perlu meningkatkan kewaspadaan.
Apabila menginginkan suasana yang lebih tenang, sebaiknya hindari melakukan pendakian saat akhir pekan atau libur panjang karena jumlah pengunjung biasanya meningkat signifikan.
Jaga kelestarian alam
Sebagai kawasan konservasi, seluruh pendaki memiliki tanggung jawab menjaga kelestarian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Seluruh sampah yang dihasilkan selama pendakian wajib dibawa turun kembali. Pendaki juga tidak diperbolehkan memetik bunga edelweiss, memberi makan satwa liar, mengambil tumbuhan atau batu dari kawasan taman nasional, maupun keluar dari jalur pendakian resmi.
Penerapan prinsip leave no trace atau tidak meninggalkan jejak menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga kelestarian alam agar tetap dapat dinikmati oleh generasi berikutnya.
Siapkan perlengkapan darurat dan transportasi
Sebelum berangkat, pastikan membawa perlengkapan pertolongan pertama seperti obat-obatan pribadi, plester, perban, antiseptik, serta perlengkapan navigasi seperti peta, kompas, atau perangkat GPS apabila diperlukan.
Selain itu, rencanakan transportasi menuju pintu masuk pendakian sejak awal, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Jika berencana menginap di sekitar kawasan taman nasional sebelum atau sesudah pendakian, lakukan pemesanan penginapan lebih awal, terutama saat musim liburan.
Melalui persiapan yang matang, kepatuhan terhadap aturan pendakian, serta kepedulian terhadap kelestarian alam, pengalaman mendaki Gunung Gede dapat menjadi perjalanan yang aman, menyenangkan, sekaligus memberikan pengalaman berharga bagi setiap pendaki.
Baca juga: Hal-hal yang mesti diperhatikan wisatawan ketika hendak mendaki gunung
Baca juga: TNGGP tutup sementara seluruh destinasi wisata di Gede-Pangrango
Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































