Pakar Unand: Perlu upaya ilmiah jaga kelestarian ayam kokok balenggek

2 hours ago 1

Kota Padang (ANTARA) - Pakar Bidang Pemuliaan Ternak dari Fakultas Peternakan Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat (Sumbar) Prof Firda Arlina menyebut perlu upaya ilmiah yang terarah untuk menjaga kelestarian ayam kokok balenggek sebagai unggas lokal Sumbar.

"Perlu upaya ilmiah untuk menjaga kelestarian ayam kokok balenggek di tengah tantangan penurunan populasi, erosi genetika, serta penurunan kualitas suara kokok," kata dia di Padang, Kamis.

Ia menjelaskan ayam kokok balenggek adalah aset plasma nutfah yang penting dilestarikan melalui pendekatan ilmiah dan partisipatif. Tujuannya untuk mendukung keberlanjutan sumber daya genetik unggas lokal, sekaligus menjaga warisan budaya daerah.

Secara umum, ayam kokok balenggek yang berasal dari Kecamatan Tigo Lurah, Kabupaten Solok itu telah mendapat pengakuan sebagai rumpun ternak Indonesia dari Provinsi Sumbar. Kemudian, sesuai dengan Keputusan Menteri Pertanian tentang Penetapan Rumpun Ayam Kokok Balenggek Nomor 2919/Kpts/OT.140/6/2011, ayam ini perlu dikembangkan dan dilestarikan keberadaannya guna peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Prof Firda mengatakan ayam kokok balenggek memiliki nilai penting dari aspek genetika, ekonomi, dan budaya. Apalagi, unggas ini memiliki keunikan suara kokok bertingkat (balenggek) yang bernilai estetika tinggi serta menjadi daya tarik dalam kontes maupun kegiatan budaya masyarakat.

Baca juga: Solok: Lomba ayam kukuak balenggek upaya lestarikan budaya lokal

Oleh karena itu, pendekatan pemuliaan yang tepat untuk meningkatkan kualitas unggas tersebut benar-benar perlu diterapkan di tengah permasalahan penurunan populasi, erosi genetik akibat persilangan tidak terkontrol, penurunan kualitas kokok, perubahan sistem pemeliharaan, serta menurunnya minat generasi muda dalam melestarikannya.

"Keragaman genetik ayam kokok balenggek menjadi modal penting dalam pengembangan dan seleksi ternak unggul," ujarnya.

Menurut dia, strategi pemuliaan unggas dapat dilakukan melalui seleksi, baik secara individu maupun berbasis keturunan serta penerapan sistem perkawinan seperti inbreeding, line breeding dan outbreeding.

Selain itu, pemanfaatan teknologi modern juga menjadi penting untuk meningkatkan akurasi seleksi dan memahami hubungan genetik seperti penanda molekuler dengan mengkarakterisasi beberapa gen yang terlibat dalam kemampuan bernyanyi pada burung dan berkokok pada ayam termasuk FOXP2, Zenk, reseptor dopamin dan reseptor kolesistokinin B (CCKBR).

"Upaya pelestarian ayam kokok balenggek pada dasarnya dilakukan melalui konservasi in situ dan ex situ, penguatan kelembagaan, serta peningkatan peran masyarakat dan komunitas pencinta melalui berbagai kegiatan," katanya.

Baca juga: Kementan harap Ayam Kukuak Balenggek segera didaftarkan ke FAO

Ia menambahkan, pelestarian ayam kokok balenggek tidak hanya berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan pelestarian identitas budaya lokal.

"Jadi, lomba ayam kokok balenggek seharusnya menilai kualitas suara dan jumlah lenggek kokok, tidak tertumpu hanya pada menilai seberapa sering unggas itu berkokok selama waktu tertentu dalam perlombaan," ujarnya.

Pewarta: Muhammad Zulfikar
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |