Jakarta (ANTARA) - Pakar dari Lembaga Afiliasi Peneliti dan Industri (LAPI) Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Irwan Iskandar menilai konsep penambangan bawah tanah modern memiliki keunggulan, karena membutuhkan ruang yang jauh lebih kecil di permukaan tanah dibandingkan tambang terbuka, sehingga lebih ramah lingkungan.
"Yang positif dari tambang bawah tanah, footprint (jejak) kerusakan atau footprint gangguan di permukaan itu kecil. Di mana, kita membutuhkan space di permukaan untuk tempat tinggal, pertanian, dan aktivitas lainnya, gangguannya menjadi jauh lebih kecil. Ini langkah positif yang bisa disebut sebagai tambang bawah tanah modern," ujar Irwan dalam diskusi soal tambang bawah tanah yang digelar Energy Editor Society (E2S) di Jakarta, Senin.
Menurut Irwan, aspek lain yang membedakan praktik pertambangan modern adalah pengelolaan sisa hasil pengolahan (tailing). Jika sebelumnya tailing pada umumnya ditempatkan di tailing dump (tempat penampung), kini perusahaan tambang bawah tanah akan mengembalikannya ke dalam ruang bekas tambang (backfill).
"Yang modern dan taktis adalah sisa hasil pengolahannya akan ditempatkan kembali, bukan ke tailing dump. Tailing dump memiliki risiko karena setelah tambang selesai, material itu tetap berada di sana sepanjang waktu. Kita belajar dari berbagai mining disaster di dunia, termasuk yang terjadi di Brasil pada 2019," katanya.
Irwan menegaskan setiap kegiatan pertambangan pasti memiliki dampak terhadap lingkungan. Namun, menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana dampak tersebut dapat dikelola melalui penerapan teknologi dan pengawasan yang tepat.
"Tambang juga punya dampak. Harus dipahami dampaknya, tetapi dampak itu harus bisa kita kelola. Salah satu yang paling penting adalah persoalan air, baik air permukaan maupun air tanah," ujarnya.
Ia menjelaskan pada tambang bawah tanah, perhatian utama bukan lagi pada keberadaan tailing dump atau bukaan tambang di permukaan, melainkan pada pengelolaan air tanah. Salah satu perubahan terbesar dalam dokumen lingkungan, lanjut Irwan, adalah keputusan mengubah sistem pembuangan tailing menjadi sistem backfill.
Menurutnya, langkah tersebut memberikan manfaat besar dalam mengurangi potensi terbentuknya air asam tambang.
"Perubahan yang signifikan adalah mengonversi sistem dari tailing dump menjadi backfill. Selain itu, juga berhasil me-recover sekitar 32 persen sulfur. Kalau sulfur itu tidak diambil, sebenarnya menjadi potensi pembentukan air asam tambang," jelas Irwan.
Meski demikian, masih terdapat sekitar tujuh persen kandungan sulfur yang tersisa. Untuk mencegah terjadinya oksidasi yang dapat memicu terbentuknya air asam tambang, material tersebut kemudian dicampur dengan semen dan kapur sebelum ditempatkan kembali ke dalam terowongan tambang.
Irwan menyatakan tren industri pertambangan global juga mulai meninggalkan penggunaan tailing dump konvensional setelah sejumlah kegagalan bendungan tailing di berbagai negara.
Banyak perusahaan kini beralih ke teknologi dry stack tailing maupun sistem backfill karena dinilai lebih aman dan memiliki jejak lahan yang lebih kecil. Memang ada biaya dan teknologi tambahan, tetapi footprint areanya jauh lebih kecil. Perubahan teknologi tersebut sebagai peralihan dari sistem lama menuju sistem yang lebih efisien.
Pembicara lainnya, Technical Manager PT Dairi Prima Mineral (DPM) Widianto mengatakan perusahaan tambangnya sudah menerapkan konsep backfilling mining dalam penambangan bawah tanah yang mengutamakan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan.
Keunggulan utama konsep tambang tersebut adalah minimnya pembukaan lahan di permukaan sehingga hutan dan ekosistem tetap terjaga.
Ia menegaskan bahwa sistem backfill tailing dalam tambang yang berlokasi di Kabupaten Dairi, Sumut tidak hanya berfungsi menjaga stabilitas area tambang, tetapi juga mendukung perlindungan lingkungan serta kepatuhan terhadap regulasi.
Melalui sistem tersebut, material backfill digunakan untuk mengisi ruang kosong (void) bekas penambangan guna memperkuat massa batuan, mengurangi risiko runtuhan, menjaga keselamatan pekerja, sekaligus melindungi kualitas air tanah melalui pemantauan berkala serta pelaporan yang terdokumentasi.
"Seluruh upaya tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan pertambangan berjalan aman, memenuhi regulasi, dan mendukung keberlanjutan operasi tambang," kata Widianto.
Baca juga: Perhapi: Tambang bawah tanah solusi pengoptimalan cadangan minerba
Baca juga: ESDM perkuat penerapan ESG dalam tata kelola pertambangan nasional
Baca juga: ESDM setujui 664 RKAB tambang minerba per 12 Juni
Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































