NEV China berikan manfaat global melalui ekspansi "rantai penuh"

1 day ago 6

Guangzhou (ANTARA) - Di pelabuhan-pelabuhan utama di sepanjang pesisir tenggara China, kendaraan listrik (electric vehicle/EV) buatan China satu demi satu dimuat ke kapal pengangkut mobil yang berlayar ke berbagai penjuru dunia. Namun, bagi industri kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV) China, ekspor kendaraan bukan lagi tujuan akhir, melainkan hanya langkah awal.

Sebagai eksportir NEV terbesar di dunia saat ini, China dengan cepat membentuk ulang strategi globalnya, beralih dari ekspor produk ke pengembangan global yang terlokalisasi dan berbasis ekosistem. Bagi banyak negara, peralihan ini berarti lebih dari sekadar mobil listrik yang terjangkau. Langkah ini membawa investasi baru, lapangan kerja lokal, dan jalur yang lebih cepat menuju transisi hijau mereka sendiri.

Data resmi dari Asosiasi Manufaktur Mobil China (China Association of Automobile Manufacturers/CAAM) menunjukkan bahwa China mengekspor 2,615 juta unit NEV pada 2025, meningkat 103,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari 1,284 juta unit pada 2024. Pada paruh pertama (H1) 2026, ekspornya mencapai 2,355 juta unit, naik 120 persen (yoy). NEV, khususnya, telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor China.

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 29 Mei 2026 ini menunjukkan kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV) yang menunggu pengiriman di Pelabuhan Nantong di Nantong, Provinsi Jiangsu, China timur. (Xinhua/Ji Chunpeng)

PENJUALAN DI LUAR NEGERI MERAIH MOMENTUM

EV asal China tidak lagi dipandang sebagai alternatif murah. Kendaraan-kendaraan ini bersaing ketat dalam hal performa, fitur cerdas, dan desain.

XPENG Motors menonjol sebagai salah satu yang terdepan. Pada 2025, perusahaan itu mengirimkan lebih dari 45.000 unit kendaraan ke luar negeri, naik 96 persen (yoy). Eropa menyumbang hampir separuh dari total tersebut, sementara kawasan Asia-Pasifik mencatatkan pertumbuhan yang kuat. Di sisi lain, sebuah pusat operasional di Mesir menjadi basis utama bagi pasar Timur Tengah dan Afrika. Pada Maret 2026, XPENG mengumumkan rencana tiga tahun untuk memperluas jangkauan ke Amerika Latin pada 2028, dengan Meksiko sebagai langkah awal.

Momentum ini juga ditunjukkan oleh GAC Group, yang memandang pasar luar negeri sebagai pendorong pertumbuhan utama dalam proses transformasinya. Pada paruh pertama 2026, GAC Group mengekspor 121.500 unit kendaraan dengan mereknya sendiri, melonjak 132 persen (yoy).

Di kawasan Timur Tengah, model-model seperti GAC Trumpchi dan GAC HYPTEC mendapat sambutan positif dari konsumen lokal berkat kualitas yang andal dan teknologi canggihnya. Di Asia Tenggara, pabrik perakitan knockdown miliknya mendukung produksi dan penjualan di pasar lokal, sementara di Eropa, perusahaan itu menargetkan NEV berteknologi cerdas kelas atas.

"Pasar luar negeri merupakan salah satu pendorong pertumbuhan utama bagi kami. Tujuan kami adalah membawa produk GAC ke pasar global yang lebih luas lagi," ujar Chen Jiacai, wakil manajer umum GAC Group, yang menargetkan ekspor sebanyak 250.000 unit pada 2026 dan 1 juta unit pada 2030, dengan kehadiran di 120 negara dan kawasan.

Para karyawan sedang bekerja di kompleks basis produksi BYD di Camacari, Negara Bagian Bahia, Brasil, pada 12 Juni 2026. (Xinhua/Jin Haoyuan)

DARI EKSPOR KE PEMBERIAN LISENSI TEKNOLOGI

Bagi produsen-produsen otomotif terkemuka China seperti BYD, GAC, dan XPENG, ambisi mereka jauh melampaui sekadar volume. Produsen-produsen tersebut kini beralih dari ekspor produk ke pemberian lisensi teknologi, manufaktur lokal, dan pengembangan merek yang mendalam, sehingga menciptakan model yang lebih berkelanjutan dan terintegrasi untuk ekspansi global.

Della Hernita, seorang staf universitas di Jakarta, dan suaminya baru-baru ini memesan mobil listrik BYD. "Awalnya kami mempertimbangkan biaya perjalanan harian, tetapi kemudian kami menemukan bahwa biaya perawatannya juga lebih rendah, dan perbedaannya akan terlihat jelas dalam jangka panjang," kata Della. "Tentu saja, kami juga ingin memilih cara bepergian yang lebih ramah lingkungan."

Dari Jakarta hingga Surabaya, NEV buatan China semakin populer di kalangan keluarga Indonesia. Meningkatnya permintaan ini telah mendorong para produsen mobil China untuk mengubah strategi global mereka, menjadi membangun pabrik di luar negeri, melisensikan teknologi inti, dan membentuk standar global.

Sebagai contoh, BYD telah memberikan lisensi platform elektronik (e-platform) 3.0 miliknya kepada Toyota dan teknologi baterai blade (blade battery) kepada Hyundai. Sementara itu, tujuh negara ASEAN juga telah mengadopsi standar pengisian daya EV-nya. Pengaturan berbagi teknologi ini membantu produsen mobil global mempercepat pengembangan EV mereka sendiri, sekaligus menyebarkan standar umum yang bermanfaat bagi seluruh pasar regional.

Dalam contoh lain, XPENG telah memasok sistem pengemudian otonomos generasi kedua dan cip AI Turing yang dikembangkan sendiri ke Volkswagen untuk diterapkan secara global. Teknologi tersebut terlebih dahulu divalidasi di China sebelum diluncurkan ke pasar Eropa dan Asia Tenggara.

"Kolaborasi ini menunjukkan kepercayaan timbal balik dan komitmen bersama terhadap inovasi dalam teknologi inti EV pintar," kata He Xiaopeng, chairman sekaligus CEO XPENG.

Orang-orang mengunjungi stan merek otomotif China XPENG dalam ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 di Indonesia Convention Exhibition di Tangerang, Provinsi Banten, pada 24 Juli 2025. (Xinhua/Cen Yunpeng)

MEMBANGUN MEREK DAN JARINGAN LAYANAN

Saat ini, pusat pengalaman merek yang modern dari BYD, GAC, dan XPENG tersebar di berbagai kawasan komersial di Eropa, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Dengan tampilan yang imersif dan staf lokal yang profesional, pusat-pusat tersebut telah mengubah persepsi lama bahwa mobil-mobil China itu "murah dan berspesifikasi rendah."

Dari sisi layanan, BYD dan XPENG telah mendirikan pusat layanan di seluruh Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Latin, menyediakan layanan pembelian mobil dan purnajual yang terintegrasi bagi pengguna di luar negeri.

Untuk mengatasi masalah lambatnya layanan perbaikan dan kekurangan suku cadang di pasar luar negeri, GAC telah mendirikan gudang suku cadang regional di Eropa, Thailand, dan Panama, masing-masing menyimpan lebih dari 3.000 komponen, sehingga mengurangi waktu perbaikan hingga setengahnya. BYD juga memanfaatkan pabrik-pabriknya di luar negeri untuk pasokan suku cadang lokal. Bagi konsumen lokal, ini berarti waktu tunggu yang lebih singkat dan biaya perawatan yang lebih rendah, sehingga pembelian kendaraan tidak lagi sekadar transaksi satu kali, tetapi menjadi pengalaman kepemilikan jangka panjang. Bagi negara tempat fasilitas tersebut beroperasi, fasilitas lokal ini turut menciptakan lapangan kerja terampil dan mendorong industri layanan EV domestik.

Di luar pengembangan merek (branding), produsen mobil China telah aktif terlibat dalam komunitas lokal di negara-negara asing. Pada Februari tahun ini, GAC Meksiko bergabung dengan Asosiasi Mobilitas Listrik Meksiko (EMA) guna mendukung penggunaan EV, penyebaran infrastruktur, dan pengembangan pasar untuk teknologi rendah emisi.

"EMA adalah mitra penting yang akan kami ajak bekerja sama untuk bersama-sama memajukan transformasi transportasi masa depan Meksiko," kata Rafe Huang, presiden GAC Meksiko.

Chen Shihua, wakil sekretaris jenderal CAAM, menghubungkan ledakan ekspor NEV dengan rantai pasokan yang kuat, skala ekonomi, dan iterasi cepat fitur-fitur cerdas di negara itu seperti pengemudian otonomos dan interaksi kabin cerdas.

"Keunggulan-keunggulan ini terus meningkatkan daya saing produk dan membantu produk-produk beradaptasi dengan kebutuhan pengguna di luar negeri," kata Chen. 

Read Entire Article
Rakyat news | | | |