Mataram (ANTARA) - Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) menilai literasi tentang warisan tekstil tradisional masyarakat Lombok semakin dikenal luas oleh dunia internasional melalui berbagai riset dan publikasi ilmiah.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan buku bertajuk "Two Islands, One Thread: Textiles of Lombok & Bali" yang disponsori oleh kolektor Australia bernama Michael Abbott dapat menjadi rujukan penting ihwal wastra Lombok.
"Indonesia dengan Australia sangat dekat, kedua negara ini tetangga yang sangat dekat. Jadi, salah satu bentuk kolaborasi yang terus kami lakukan adalah membangun komunikasi kebudayaan," ucapnya di Mataram, Senin.
Buku setebal lebih dari 500 halaman tersebut melibatkan delapan penulis lokal asal Lombok bersama beberapa penulis asing dari Jepang, Inggris, Amerika Serikat, dan Australia.
Baca juga: Museum NTB telusuri jejak kain Pesujudan warisan kebudayaan Islam
Nuralam mengatakan selama ini publikasi internasional yang secara khusus membahas tentang kain Lombok masih sangat terbatas, sehingga penerbitan buku tersebut menjadi tonggak penting dalam mengisi kekosongan referensi bagi ilmu pengetahuan global.
Museum NTB menyumbang delapan foto artefak ke dalam buku yang akan diluncurkan pada Oktober 2026 mendatang, sebagai penguat dokumentasi sejarah tekstil Lombok.
Ia berharap kolaborasi itu menjadi bagian dari upaya mempererat komunikasi kebudayaan antara Indonesia dan Australia yang telah terjalin selama berabad-abad.
"Mudah-mudahan setelah ini semakin banyak generasi Sasak di Lombok yang menulis tentang kebudayaannya dan diterbitkan, supaya kekayaan khazanah kebudayaan dikenal oleh masyarakat luas," kata Nuralam.
Baca juga: Museum NTB pamerkan enam artefak wastra di Australia
Kurator Emeritus Museum & Art Gallery of the Northern Territory (MAGNT) Australia James Bennett memaparkan penyusunan buku itu telah dimulai sekitar tiga tahun lalu melalui kerja sama erat dengan Museum NTB dan sejumlah peneliti di Lombok.
Ia memandang karya ilmiah yang ditulis oleh banyak peneliti lokal dapat memperkaya perspektif mengenai kebudayaan Sasak, sekaligus memperkuat posisi Lombok dalam khazanah literatur budaya dunia.
"Saya harap buku itu menjadi langkah untuk orang lokal mengadakan penelitian lebih dalam tentang sejarah kain di Lombok," kata James yang menginjakkan kaki pertama kali ke Indonesia pada tahun 1979 tersebut.
Baca juga: Kepala Museum NTB: Wastra Lombok-Bali tembus panggung internasional
Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































