Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian Amran Sulaiman memastikan bahwa pemerintah tidak mengeluarkan izin impor beras medium pada tahun 2025 lalu karena pasokan cadangan pangan nasional sudah dalam kondisi surplus dan menegaskan bahwa Indonesia swasembada beras.
"Tapi yang terpenting tahun 2025 tidak ada keluar izin impor beras medium," tegas Amran Sulaiman usai menghadap Presiden Prabowo Subianti di Istana Negara, Jakarta, Kamis.
Pernyataan Amran terkait pandangan pihak tertentu yang masih ragu pada pernyataan swasembada beras nasional. Amran melaporkan ketersediaan stok riil pangan nasional per bulan Juni 2026 yang dinilai sangat melimpah.
Mentan memaparkan bahwa saat ini stok beras yang dikuasai pemerintah tercatat berada pada kisaran angka 5,2 juta ton dan dalam kondisi yang sepenuhnya aman.
Melimpahnya pasokan beras tersebut bahkan membuat Perum Bulog harus melakukan sewa gudang tambahan karena kapasitas internalnya yang sudah tidak mencukupi.
"Kapasitas Bulog hanya 3 juta ton, tapi stok kita 5,2 juta ton. Artinya Bulog hari ini menyewa gudang 2,2 juta ton," ungkap Amran.
Selain stok di gudang Bulog, pemerintah juga menghitung estimasi standing crop atau yang masih di ladang yang saat ini berada di kisaran 10 hingga 11 juta ton.
Cadangan beras yang tersimpan di sektor hilir seperti hotel, rumah tangga, dan restoran di seluruh penjuru tanah air juga melimpah dengan volume mencapai 12,5 juta ton.
Melalui akumulasi ketiga indikator cadangan pangan tersebut, pemerintah memproyeksikan kebutuhan konsumsi beras nasional akan terpenuhi secara aman hingga 10 sampai 11 bulan ke depan.
Surplus beras ini sekaligus memperpanjang tren positif sektor pertanian domestik di mana komoditas beras kini bukan lagi menjadi penyumbang utama bagi angka inflasi nasional selama dua tahun berturut-turut.
Baca juga: Mentan sebut Indonesia swasembada pangan sesuai standar FAO
Baca juga: Mentan surati Kapolri tindak pabrik yang turunkan harga TBS sawit
Pewarta: Aditya Ramadhan, Fathur Rochman
Editor: Tasrief Tarmizi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































