Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Sugiono mengemukakan Presiden Prabowo Subianto akan menerima kunjungan kenegaraan balasan Presiden Belarus Alexandr Lukashenko di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis.
Sugiono mengatakan kunjungan tersebut menjadi tindak lanjut dari lawatan Presiden Prabowo ke Belarus pada 15 Juli tahun lalu yang menghasilkan komitmen memperluas kerja sama bilateral.
"Seperti kita ketahui, pada tanggal 15 Juli yang lalu (2025), Presiden kita berkunjung ke sana dan dari pertemuan tersebut, banyak potensi-potensi kerja sama bilateral yang ingin terus dikembangkan," kata Sugiono di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis.
Sugiono menjelaskan pertemuan kedua kepala negara diharapkan membuka babak baru hubungan Indonesia dan Belarus yang semakin intensif.
Menurut Menlu, kedua negara memiliki banyak potensi kerja sama yang akan terus dikembangkan di berbagai sektor strategis.
"Hari ini juga akan diluncurkan satu roadmap hubungan bilateral di berbagai sektor antara Indonesia dengan Belarus," katanya.
Ia menambahkan penguatan hubungan tersebut didukung dengan telah ditandatanganinya perjanjian Indonesia-Eurasia CEPA, dan Belarus menjadi salah satu negara yang telah meratifikasinya.
Hal itu dinilai menjadi landasan penting bagi peningkatan kerja sama ekonomi kedua negara.
Baca juga: RI-Belarus matangkan roadmap jelang kunjungan Presiden Lukashenko
Sugiono menegaskan fokus utama kerja sama sejalan dengan program Presiden Prabowo, terutama di bidang ketahanan pangan dan ketahanan energi.
Pemerintah akan memperkuat kolaborasi dalam sektor pertanian, termasuk kerja sama penyediaan bahan baku pupuk dari Belarus.
"Kepentingan kita yang utama, karena ini juga sesuai dengan programnya Bapak Presiden, terutama di bidang ketahanan pangan dan ketahanan energi, kerja sama yang lebih intensif di bidang ini juga akan dimantapkan, beberapa produk pertanian, dan khususnya bahan baku pupuk juga akan dikerjasamakan antara Belarus dan Indonesia," ujarnya.
Menurut Sugiono, kunjungan ini merupakan kunjungan kedua Presiden Lukashenko ke Indonesia setelah lawatan pertamanya pada 2013.
Pemerintah Indonesia berharap kunjungan balasan tersebut semakin mempererat hubungan bilateral sekaligus membuka peluang baru bagi peningkatan perdagangan, investasi, serta pemenuhan kebutuhan sumber daya strategis kedua negara.
Baca juga: Menko: Indonesia melakukan "due diligence" saham tambang di Belarus
Baca juga: RI-Belarus sepakati komitmen bisnis mencapai Rp7 triliun
Pewarta: Maria Cicilia Galuh Prayudhia
Editor: Didik Kusbiantoro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































