Menjaga nilai karya jurnalistik di era AI

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Nikel adalah bahan baku baterai. Karya jurnalistik adalah salah satu bahan baku kecerdasan buatan.

Analogi ini sederhana, tetapi cukup menjelaskan perubahan besar yang sedang berlangsung dalam ekonomi digital global.

Pernyataan Menteri Hukum Suparman Andi Agtas mengenai rencana penarikan royalti atas pemanfaatan komersial karya jurnalistik perlu dibaca dalam kerangka tersebut. Isunya tidak semata-mata tentang pungutan, hak cipta, atau kepentingan perusahaan pers.

Lebih jauh dari itu, ia menyentuh pertanyaan mendasar: siapa yang seharusnya menikmati nilai ekonomi dari karya jurnalistik, ketika digunakan oleh platform digital dan sistem kecerdasan buatan untuk memperoleh keuntungan komersial?

Bagi mereka yang pernah bekerja di ruang redaksi, setiap berita bukanlah sekadar rangkaian kalimat. Ia lahir dari proses panjang: mencari fakta, memverifikasi informasi, mewawancarai narasumber, menyunting naskah, menimbang etika, lalu mempertanggungjawabkannya kepada publik. Semua proses itu membutuhkan waktu, biaya, keahlian, dan tanggung jawab profesional.

Karena itu, ketika karya jurnalistik menjadi salah satu fondasi penting bagi kecerdasan buatan, pertanyaan mengenai penghargaan terhadap nilai ekonominya menjadi semakin relevan.

Ekonomi jurnalisme

Kecerdasan buatan telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Dulu publik membuka surat kabar, menonton siaran berita, mendengarkan radio, atau mengakses portal media daring untuk memahami suatu peristiwa. Kini, semakin banyak orang cukup bertanya kepada mesin AI dan memperoleh jawaban ringkas dalam hitungan detik.

Perubahan ini membawa manfaat besar. Informasi menjadi lebih mudah diakses, cepat disusun, dan praktis digunakan. Namun, kemudahan akses terhadap informasi tersebut tidak muncul dari ruang hampa. Sistem AI belajar dari data, teks, arsip, laporan, buku, dokumen, dan karya jurnalistik yang diproduksi manusia.

Di sinilah persoalan baru muncul. Media mengeluarkan biaya untuk memproduksi berita, tetapi nilai ekonominya dapat dinikmati platform lain yang mengolah, merangkum, atau menyajikan kembali informasi tersebut dalam format berbeda. Publik memperoleh jawaban, platform memperoleh trafik atau pendapatan, sementara media asal berpotensi kehilangan kunjungan pembaca dan pendapatan iklan.

Jika dibiarkan tanpa aturan main yang adil, situasi ini dapat melemahkan ekosistem jurnalisme. Padahal, tanpa media yang sehat, AI juga akan kehilangan salah satu sumber informasi berkualitas. Kecerdasan buatan membutuhkan data yang akurat, sedangkan akurasi informasi membutuhkan jurnalisme yang kuat.

Dengan demikian, royalti karya jurnalistik bukanlah bentuk resistensi terhadap teknologi. Ini adalah upaya mencari keseimbangan baru agar inovasi digital tidak memutus mata rantai ekonomi yang menopang produksi informasi kredibel.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |