Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bahwa ruang-ruang kreatif berbasis komunitas memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya sekaligus mendorong lahirnya inovasi tanpa melepaskan akar tradisinya.
“Budaya akan tetap hidup bukan hanya karena diwariskan, tetapi karena diberi ruang untuk dipraktikkan, dikembangkan, dan dirayakan bersama oleh komunitasnya,” ujar Menbud Fadli Zon, dalam keterangan resmi yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, pada Sabtu.
Komitmen tersebut, menurut Menbud Fadli, sejalan dengan amanat Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sebagai implementasinya, Kementerian Kebudayaan terus memperkuat pelindungan tradisi budaya lokal melalui pemberdayaan komunitas, penyelenggaraan festival budaya, dan dokumentasi warisan budaya.
Baca juga: Kementerian Kebudayaan akan hadirkan gerakan Indonesia bercerita
Baca juga: Menbud dorong Lengger Banyumas mendunia
Di sisi lain, Kementerian Kebudayaan juga mendorong regenerasi nilai-nilai budaya, serta memanfaatkan teknologi digital untuk mendokumentasikan dan mempromosikan budaya Indonesia hingga ke tingkat internasional.
Dalam hal ini, Menbud Fadli juga menyoroti salah satunya seperti terselenggaranya Banyumas Lengger Bicara 2026 Gemah Ripah Loh Jinawi yang diinisiasi oleh Yayasan Lengger Bicara yang dinilai sebagai pertunjukan ini merupakan wujud nyata komitmen masyarakat dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan budaya bangsa.
Menurut dia, Lengger Banyumas bukan sekedar tari pertunjukan. Di dalamnya terkandung sejarah, nilai-nilai kehidupan masyarakat, ekspresi estetika, serta identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Lewat gerak tari, musik, tembang, dan interaksi yang khas, Lengger Banyumas mempresentasikan kekayaan tradisi yang tumbuh dari akar budaya masyarakat Banyumas.
“Pertunjukan Lengger Banyumas dapat terus menjadi ruang dialog budaya yang mempererat persaudaraan, memperkuat identitas daerah, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan kebudayaan Indonesia,” tutur Menbud Fadli Zon.
Menbud Fadli Zon juga menyoroti besarnya potensi budaya Banyumas yang mencakup berbagai ekspresi budaya, seperti Calung Banyumasan, Ebeg, Lengger Banyumasan, Buncis, Seni Begalan, Ronggeng Banyumasan, hingga bahasa Banyumasan dengan kekhasan dialek ngapak.
Baca juga: Menbud: Market share film domestik telah mencapai 67 persen
Beragam kekayaan budaya tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk terus dikembangkan melalui medium kreatif, seperti teater, film, literasi, siniar, dan berbagai konten digital agar makin dekat dengan generasi muda.
Sementara itu Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menyampaikan makna dibalik tema Gemah Ripah Loh Jinawi yang diangkat dalam penyelenggaraan kali ketiga Banyumas Lengger Bicara.
Tema ini menggambarkan tanah yang makmur tumbuh beriringan dengan budaya yang berkembang bersama warganya. Dirinya juga menggarisbawahi bahwa api juga upaya bersama dalam menjaga budaya sebagai identitas bangsa.
Dalam sesi Tribute to Maestro, Banyumas Lengger Bicara 2026 yang digelar di Menara Teratai, Purwokerto, itu juga turut menganugerahkan penghargaan kepada maestro Peang Penjol dan Suliyah, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka dalam merawat, melestarikan, dan mengembangkan kesenian tradisional Banyumas.
Penghargaan itu menegaskan pentingnya peran para maestro sebagai penjaga memori budaya sekaligus sumber inspirasi bagi lahirnya regenerasi seniman di masa depan.
Baca juga: Menbud ungkap andil kampus lestarikan budaya lewat pengetahuan kreatif
Baca juga: Menbud sebut peluang investasi bioskop masih terbuka lebar
Baca juga: Menbud: Cagar budaya bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan
Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































