Mendes: Ekspor langsung dari desa tingkatkan pendapatan 30 persen

3 days ago 4

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) menyebut skema ekspor langsung dari desa mampu meningkatkan pendapatan masyarakat hingga 30 persen karena memangkas rantai distribusi yang selama ini mengurangi keuntungan pelaku usaha desa.

“Jadi langsung potong rantai distribusinya, pendapatan ekonomi masyarakat itu bertambah 30 persen,” kata Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes) Yandri Susanto usai penandatanganan nota kesepahaman dengan Badan Karantina Indonesia (Barantin) di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, selama ini banyak produk desa dipasarkan melalui rantai distribusi yang panjang, mulai dari tengkulak, pengepul, hingga perantara lainnya sebelum akhirnya diekspor.

Kondisi tersebut menyebabkan nilai tambah yang diterima masyarakat desa menjadi lebih kecil dibandingkan jika produk dijual langsung kepada pembeli di negara tujuan.

“Selama ini produk desa itu diambil sama tengkulak, sama pengepul dulu, panjang. Sehingga desa itu berkurang margin-nya,” ujar dia.

Yandri menjelaskan program 5.000 Desa Ekspor yang ditargetkan rampung pada 2029 didorong agar desa dapat menjadi pelaku ekspor secara langsung melalui badan usaha milik desa (BUMDes) atau kelembagaan ekonomi desa lainnya tanpa harus bergantung pada rantai perantara yang panjang.

Baca juga: Barantin identifikasi empat hambatan produk desa menuju ekspor

Baca juga: Barantin-Kemendes perkuat literasi desa dukung 5.000 Desa Ekspor

Ia kemudian memberikan salah satu contoh ekspor yang telah dilakukan adalah ekspor gula aren dari Desa Temon, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, yang dikirim langsung ke Australia, Malaysia, dan Belanda melalui pelabuhan ekspor tanpa melalui perantara.

Selain itu, Desa Kertasana di Kabupaten Pandeglang juga telah mengekspor ikan koi emas secara langsung ke Kanada, Inggris, Prancis, dan Afrika Selatan.

Yandri juga menyebut ekspor gula aren dari Banyumas yang telah menjangkau pasar Hungaria dan Spanyol.

Menurut dia, skema ekspor langsung tersebut tidak hanya memperluas akses pasar bagi produk desa, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat karena nilai jual yang diterima produsen menjadi lebih tinggi.

“Jadi Desa Ekspor itu tidak lagi melalui A, B, C baru diekspor, enggak, tapi desa sebagai pelaku ekspor,” ungkapnya.

Yandri mengatakan Kemendes PDT saat ini menargetkan pengembangan Desa Ekspor sebagai bagian dari program 12 Aksi Bangun Desa.

Saat ini, jumlah desa ekspor yang telah terbentuk mencapai 338 desa dengan nilai transaksi hampir Rp1 triliun.

“Bayangkan baru 300 saja sudah Rp1 triliun. Kalau sudah ribuan desa itu menjadi desa ekspor, maka desa bisa juga menjadi penyumbang devisa negara,” tuturnya.

Ia menambahkan produk desa yang telah memasuki pasar internasional tidak hanya terbatas pada komoditas pertanian dan perikanan, tetapi juga mencakup produk olahan dan kerajinan yang memiliki daya saing di pasar global.

Menurut Yandri, penguatan desa ekspor diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperbesar kontribusi desa terhadap pertumbuhan ekonomi dan penerimaan devisa nasional.

Baca juga: Mendes: Potensi desa yang dikelola dengan baik hasilkan kesejahteraan

Baca juga: Kemendes-ID SEED kolaborasi maksimalkan ekspor hasil hilirisasi desa

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |