Membangun ruang aman agar anak tumbuh tanpa bayang-bayang kekerasan

1 month ago 18

Purwokerto (ANTARA) - Tawa anak-anak selalu menghadirkan harapan. Di balik keceriaan mereka, tersimpan masa depan bangsa yang sedang dibentuk sedikit demi sedikit melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Namun, harapan itu dapat berubah menjadi luka ketika anak menjadi korban kekerasan, baik berupa perundungan, kekerasan fisik, kekerasan seksual, penelantaran, maupun kekerasan yang terjadi di ruang digital.

Momentum Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli menjadi pengingat bahwa melindungi anak tidak cukup dilakukan melalui slogan atau peringatan tahunan. Perlindungan anak membutuhkan komitmen yang hidup dalam keseharian, mulai dari rumah hingga ruang publik, agar setiap anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan sehat.

Pemerhati anak sekaligus pakar pendidikan anak usia dini Universitas Islam Negeri Prof KH Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof Fauzi, mengatakan kekerasan terhadap anak masih menjadi persoalan yang terus membayangi Indonesia. Berbagai kasus yang muncul menunjukkan bahwa perlindungan terhadap anak belum dapat dikatakan optimal.

"Jangan sampai kita membiarkan dan menormalisasi segala bentuk kekerasan terhadap anak. Dampaknya sangat besar terhadap perkembangan fisik, mental, dan psikologis mereka di masa depan," katanya.

Menurut dia, persoalan anak tidak boleh dipandang sebagai urusan keluarga korban semata. Anak merupakan generasi penerus yang akan menentukan kualitas bangsa sehingga setiap bentuk kekerasan harus menjadi perhatian bersama.

"Jadikan isu anak sebagai isu kita, bukan isu mereka. Masa depan anak adalah masa depan kita semua," ujarnya.

Ia menilai perlindungan anak harus dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan promotif, preventif, dan kuratif. Edukasi kepada masyarakat perlu terus diperkuat agar setiap orang memahami dampak buruk kekerasan terhadap tumbuh kembang anak.

Di sisi lain, semua pihak harus berupaya menutup setiap celah yang memungkinkan terjadinya kekerasan. Setiap pintu menuju kekerasan harus ditutup, sekecil apa pun peluangnya.

Upaya tersebut tidak hanya berlaku di rumah, tetapi juga di sekolah, tempat bermain, lembaga pendidikan keagamaan, hingga ruang digital yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak.

Fauzi mengingatkan bahwa dunia pendidikan masih menghadapi tantangan serius karena berbagai bentuk kekerasan masih ditemukan di sekolah maupun lembaga pendidikan lainnya. Padahal, sekolah seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman sekaligus ruang bagi anak untuk berkembang.

Tantangan lain adalah masih banyak korban yang memilih diam. Menurut dia, anak sering tidak berani mengungkapkan kekerasan yang dialaminya karena takut, mendapat ancaman dari pelaku, atau tidak mengetahui kepada siapa mereka harus meminta pertolongan.

Baca juga: Hari Anak Nasional dan janji yang belum selesai

Baca juga: Dirjen PAUD: Peringatan HAN perkuat komitmen bersama penuhi hak anak

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |