Memaknai ucapan “hati-hati di jalan” di tengah hiruk-pikuk Jakarta

3 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Di tengah sibuknya warga yang mencari sesuap nasi di ibu kota, frasa “hati hati di jalan” selalu mengiringi langkah mereka ketika meninggalkan rumah. Itu bukan sekadar basa-basi, ucapan itu mengandung harapan dari orang-orang terkasih agar mereka senantiasa selamat sampai tujuan dan kembali ke rumah dalam kondisi baik.

Makna kalimat itu bahkan kini semakin terasa dalam setelah tragedi kecelakaan kereta api beberapa waktu lalu di Bekasi Timur.

Peristiwa tersebut juga seolah menegaskan kembali bahwa keselamatan di perlintasan sebidang, terutama yang tidak resmi atau liar, masih menjadi titik lemah dalam sistem transportasi.

Kondisi ini menempatkan pemerintah pusat dan daerah pada posisi krusial. Penertiban perlintasan liar tidak bisa lagi ditunda atau dilakukan setengah hati. seperti yang disampaikan pengamat transportasi Djoko Setjowarno. Menurut dia, dibutuhkan langkah tegas guna meningkatkan keamanan bertransportasi dan menekan angka kecelakaan.

Menurut Djoko, pemisahan jalur operasional harus menjadi prioritas. Sebab, kata dia, KRL dan kereta antarkota memiliki karakteristik yang berbeda secara fundamental.

Sejalan dengan itu, tentu saja penyelesaian proyek double-double track Jakarta–Cikarang tidak hanya penting untuk meningkatkan kapasitas, tetapi juga keselamatan. Dalam jangka menengah, konsep ini perlu diperluas seiring dengan pengembangan layanan KRL ke wilayah yang lebih jauh.

Hal juga tak kalah pentingnya adalah penghapusan perlintasan sebidang di koridor padat harus dipercepat. Dengan frekuensi kereta yang tinggi, waktu penutupan perlintasan akan semakin panjang dan berpotensi menimbulkan antrean kendaraan.

Dalam kondisi disiplin pengguna jalan yang masih rendah, risiko pelanggaran dan kecelakaan akan terus meningkat jika perlintasan sebidang tidak ditangani dengan serius.

Oleh karena itu, pembangunan perlintasan tidak sebidang seperti underpass dan overpass perlu menjadi prioritas berbasis risiko.

Menurut Djoko, penataan ruang di sepanjang jalur kereta api harus diperkuat. Aktivitas masyarakat yang tidak terkendali, akses tidak resmi, serta lemahnya penegakan tata ruang dapat menjadi sumber gangguan serius bagi operasional kereta.

Baca juga: Pengamat soroti pentingnya anggaran untuk tekan kecelakaan perlintasan

Pendidikan keselamatan

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |