Semarang (ANTARA) - Nasikhin, dosen luar biasa Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang dulunya pemulung sukses meraih gelar doktor studi Islam di perguruan tinggi tersebut.
Pada ujian promosi doktoral yang dipimpin Ketua Sidang Prof Musahadi di Ruang Promosi Doktor, Kampus I UIN Walisongo Semarang, Nasikhin berhasil mempertahankan disertasinya.
"Saudara Nasikhin dinyatakan lulus dengan IPK 3,89. Dengan ini, dinyatakan bahwa saudara Nasikhin adalah Doktor ke-409 yang diluluskan oleh UIN Walisongo Semarang," kata Prof Musahadi di hadapan para penguji dan tamu undangan di kampus UIN Walisongo Semarang, Selasa.
Baca juga: BPJS Ketenagakerjaan serahkan santunan enam mahasiswa UIN Walisongo
Dibalik toga dan gelar akademik tertinggi yang diraihnya, Nasikhin memiliki rekam jejak kehidupan yang luar biasa, karena tidak ada menyangka pria yang hari ini berdiri di mimbar akademik tersebut merupakan seorang mantan pemulung.
Pada tahun 2012 hingga 2017, ia menghabiskan hari-harinya menyusuri jalanan pedesaan bersama sang ibu untuk mencari barang bekas demi menopang ekonomi keluarga.
Di tengah keterbatasan tersebut, sang ibu kerap membelikan buku-buku bekas kiloan seharga Rp1.000 atau menerima pemberian cuma-cuma dari warga untuk dijual kembali ke pengepul.
Sebelum buku-buku lusuh itu dijual, Nasikhin selalu menyempatkan diri untuk membaca isinya.
Kebiasaan sederhana di sela memikul barang bekas inilah yang justru menempa ketajaman literasi, daya analisis, dan kecintaannya pada dunia pendidikan hingga mengantarkannya ke jenjang S-3.
Perjalanan akademik Nasikhin di UIN Walisongo Semarang adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk berprestasi.
Sepanjang kuliah, ia berhasil membiayai pendidikannya secara mandiri melalui berbagai jalur beasiswa bergengsi.
Program S-1, kuliah di UIN Walisongo Semarang diraihnya melalui beasiswa Bidik Misi, kemudian melanjutkan studi S-2 lewat beasiswa Lulusan Sarjana Terbaik UIN Walisongo Semarang, dan program doktor melalui Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama.
Baca juga: UIN Walisongo tuan rumah "Indonesian Interfaith Scholarship 2025"
Baca juga: UIN Walisongo-Kemenag perkuat literasi digital akademisi lewat AI
Sejak tahun 2022, Nasikhin telah menghasilkan 131 publikasi ilmiah serta aktif menjalin kolaborasi riset internasional dengan akademisi dari Malaysia, Thailand, hingga Brunei Darussalam.
Di tingkat global, rekam jejaknya diperkuat dengan 12 artikel ilmiah yang terindeks Scopus (Q1, Q2, dan Q3) dengan H-Index Scopus 4 dan H-Index Google Scholar 15.
Dalam sidang terbuka tersebut, ia mempertahankan disertasinya berjudul "Literasi Artificial Intelligence dan Implikasinya dalam Pengembangan Keterampilan Abad 21 (Studi Kasus pada Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di UIN Walisongo Semarang dan UII Yogyakarta)".
Risetnya menyoroti pentingnya mahasiswa Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki literasi AI yang kuat agar tidak terjebak dalam ketergantungan teknologi tanpa dasar epistemologis.
Nasikhin menawarkan model literasi AI yang integratif dengan memasukkan dimensi etika digital Islam dan akhlak digital, sehingga pemanfaatan AI tetap berjalan selaras dengan nilai-nilai keagamaan.
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































