Beijing (ANTARA) - Tim ilmuwan China meluncurkan proyek megasains internasional ambisius untuk mengungkap cetak biru genetik dari garis-garis keturunan tumbuhan darat utama, dengan tujuan menyusun "pohon kehidupan" (tree of life) yang lengkap bagi flora serta mengatasi berbagai tantangan global yang mendesak dalam ketahanan pangan dan konservasi keanekaragaman hayati.
Inisiatif tersebut, yang diberi nama PLANeT, secara resmi diluncurkan di Beijing pada Rabu (11/2).
Proyek ini dipimpin bersama oleh Institut Genomik Pertanian Shenzhen (Agricultural Genomics Institute at Shenzhen/AGIS) di bawah Akademi Ilmu Pertanian China (Chinese Academy of Agricultural Sciences/CAAS) yang bekerja sama dengan Perhimpunan Botani China (Botanical Society of China), Universitas Peking, dan lebih dari 40 institusi lain dari 15 negara dan kawasan, menurut sebuah rilis pers AGIS yang dipublikasikan pada Kamis (12/2).
Proyek itu akan secara sistematis mengambil sampel ordo dan famili tumbuhan yang saat ini belum tercakup dalam basis data genomik.
Dengan memanfaatkan metode filogenomik, para peneliti bertujuan menyelesaikan perdebatan mengenai hubungan evolusi dan waktu divergensi di antara semua kelompok tumbuhan utama guna menyusun "pohon kehidupan" yang komprehensif, kata Wang Li, seorang peneliti utama inisiatif tersebut dari AGIS.
Salah satu hambatan penting dalam ilmu botani adalah bahwa lebih dari 99 persen dari sekitar 450.000 spesies tumbuhan darat tidak memiliki genom rujukan yang berkualitas tinggi. Kesenjangan data itu sangat membatasi pemahaman manusia tentang evolusi dan potensi fungsional tumbuhan.
"PLANeT mengingatkan kita pada Proyek Genom Manusia (Human Genome Project) yang diluncurkan pada 1990. Temuan-temuan dari upaya selama satu dekade itu dengan cepat memajukan genetika manusia. Kini, proyek PLANeT kami memiliki visi serupa," ujar Wang.
Dengan jumlah data genomik masif yang akan dihasilkan, pemrosesannya menjadi tugas yang signifikan. "Kami menerapkan algoritma dan model kecerdasan buatan (AI) supaya mesin-mesin dapat mempelajari dan menerjemahkan 'bahasa umum' tumbuhan," jelas Wang.
Model-model dasar bahasa genomik akan memindai puluhan ribu genom tumbuhan untuk mengidentifikasi aturan "gramatikal" yang tersimpan dalam urutan DNA, logika organisasional elemen-elemen pengatur, dan pola pengodean pada modul-modul fungsional.
"Hanya dengan menerjemahkan 'bahasa umum' tumbuhan, kita dapat memahami hukum dasar kehidupan dari 470 juta tahun evolusi tumbuhan. Kumpulan data genomik ini juga dapat membantu tumbuhan yang berada di ambang kepunahan," kata Wang.
Berbeda dengan konservasi tradisional yang dibatasi oleh pengumpulan data fenotipik, PLANeT akan secara efisien mengidentifikasi spesies yang rentan secara genetik melalui indikator-indikator genomik, memberikan dukungan teoretis yang kuat bagi penilaian keanekaragaman hayati dan perumusan kebijakan konservasi.
Selain itu, sebut Wang, dengan menganalisis gen-gen yang berkaitan dengan ketahanan terhadap penyakit, toleransi terhadap kekeringan, dan toleransi terhadap garam, proyek ini memfasilitasi pemuliaan "tumbuhan masa depan" yang tangguh terhadap iklim guna menjaga ketahanan pangan global.
AGIS menyatakan PLANeT bukan hanya sebuah eksplorasi sains mutakhir, tetapi juga sebuah komitmen terhadap kerja sama internasional yang terbuka dan saling berbagi, dengan tujuan untuk membentuk kembali paradigma dalam penelitian ilmu hayati sekaligus memberikan solusi konkret untuk kesehatan manusia dan keberlanjutan ekologis.
Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































