Aceh Utara (ANTARA) - “Yang di sana, di batang pohon itu, (dulu) rumah saya itu.”
Mahdi (40) memutar tubuh untuk menunjuk ke titik tempat dahulu rumahnya berdiri. Kini, bersih tak bersisa, puing pun tak terdeteksi. Yang ada hanyalah tumpukan kayu dari pohon tumbang dan bebatuan yang terbawa oleh arus banjir.
Kemudian, telunjuknya berpindah, tak sampai selemparan batu dari lahan tempat rumahnya pernah berdiri.
“Nah! Itu rumah bapak. Sebelah sana itu (telunjuk Mahdi kembali mengarah ke tempat yang berbeda) rumah saudara juga.”
Meskipun telunjuk hanya mampu mengarahkan pandangan kepada tumpukan kayu dan bebatuan lainnya, sorot mata Mahdi menyiratkan masih segar dalam ingatan ihwal rumah kayu yang pernah berdiri di lokasi itu.
Semangat yang terselip di balik seruan “itu rumah bapak” membuat siapa pun yang mendengar suaranya terdorong untuk ikut melihat ke arah yang ia tunjuk. Walaupun mereka tahu, tidak ada rumah yang bisa dilihat.
Pandangan Mahdi mendamba hangat kenangan yang tersimpan di tiap sudut kediaman, kendati telah tersapu oleh banjir bandang pada November 2025.
Adi, sapaan akrabnya, merupakan salah satu dari 326 warga Dusun Lhok Pungki yang kehilangan tempat tinggal. Dusun tersebut berlokasi di Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.
Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, jumlah korban terdampak bencana banjir di daerah itu sebanyak 433.064 jiwa atau 124.549 kepala keluarga (KK), korban banjir yang masih mengungsi 33.261 jiwa atau 9.242 KK, dan korban luka-luka 2.127 orang.
Apabila diukur dari dampak kerusakan rumah, sebanyak 9.707 unit berada dalam kategori rusak berat; kemudian 26.298 unit rusak sedang; dan untuk kerusakan ringan terdapat 62.890 unit rumah.
Dalam hal ini, Lhok Pungki dikenal sebagai “Dusun yang hilang”, sebab bencana banjir bandang dan tanah longsor melibas nyaris seluruh rumah yang berdiri di tanah tersebut.
Hanya tersisa beberapa rumah di tepi sungai. Jumlahnya bisa dihitung menggunakan jari. Rumah-rumah tersebut tak lagi berpenghuni karena seluruh warga Dusun Lhok Pungki, dengan jumlah kurang lebih 85 KK, mengungsi ke Dusun Paya Reubek yang juga berlokasi di Desa Gunci.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta warga Dusun Lhok Pungki tak lagi tinggal di kawasan tersebut karena masuk kategori kawasan rawan bencana.
Meskipun demikian, sesekali Adi menyempatkan diri mendatangi tempat yang pernah ia sebut sebagai “rumah”, dengan langkah yang acapkali terasa berat.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































