Legislator desak evaluasi keamanan imbas anak jatuh ke kandang gajah

3 weeks ago 12

Jakarta (ANTARA) - Anggota DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth mendesak evaluasi sistem keamanan dan keselamatan pengunjung imbas insiden jatuhnya seorang anak di area kandang gajah Taman Margasatwa Ragunan.

"Kami meminta evaluasi dilakukan secara objektif dan menyeluruh. Fokusnya bukan mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan menemukan akar persoalan," kata Kenneth di Jakarta, Senin.

Menurut dia, peristiwa terjatuhnya seorang anak di kandang gajah tidak boleh dipandang sebagai insiden biasa, peristiwa itu harus menjadi momentum bagi seluruh pengelola fasilitas publik untuk berbenah memperkuat standar keselamatan.

Apalagi, kata Kenneth, lokasi wisata itu setiap harinya dikunjungi ribuan masyarakat, termasuk anak-anak dan keluarga.

"Saya sangat prihatin atas terjadinya insiden ini. Keselamatan dan kondisi kesehatan anak yang bersangkutan harus menjadi prioritas utama," ujarnya.

Kenneth menegaskan bahwa keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama dalam setiap standar operasional pengelolaan kawasan wisata.

Oleh karena itu, manajemen Taman Margasatwa Ragunan diminta melakukan investigasi internal secara transparan guna mengetahui secara pasti kronologi kejadian, faktor penyebab, serta kemungkinan adanya celah dalam sistem pengamanan.

Menurut dia, pemeriksaan terhadap aspek pengamanan fisik harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pagar pembatas, pagar pengaman berlapis, jalur pengunjung, titik observasi satwa, hingga area-area yang memiliki tingkat risiko tinggi.

"Apabila ditemukan adanya pagar yang tidak memenuhi standar keamanan, celah pengamanan, atau titik yang memungkinkan pengunjung mendekati area satwa secara berbahaya, maka perbaikan harus segera dilakukan tanpa menunggu terjadinya insiden berikutnya," kata Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta itu.

Selain itu, penguatan sistem pengawasan di lapangan juga dinilai sangat penting. Jumlah petugas keamanan dan petugas pengawas harus disesuaikan dengan tingkat kunjungan, terutama saat akhir pekan, hari libur nasional, maupun masa liburan sekolah yang biasanya mengalami lonjakan pengunjung.

Di sisi lain, Kenneth juga menyoroti fenomena masyarakat yang kerap mengabaikan keselamatan demi mendapatkan foto atau video yang menarik untuk diunggah ke media sosial.

Menurutnya, tren tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena dapat memicu tindakan berisiko, terutama di kawasan wisata yang memiliki potensi bahaya.

"Terlepas dari apa pun motif yang melatarbelakangi kejadian tersebut, keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas utama. Di era media sosial saat ini, masyarakat perlu semakin bijak dalam membuat maupun mengejar konten," katanya.

Kenneth menjelaskan kawasan konservasi satwa memiliki protokol aturan dan batasan yang wajib dipatuhi oleh seluruh pengunjung. Pagar pengaman, garis pembatas, serta berbagai rambu keselamatan dibuat bukan untuk membatasi aktivitas masyarakat, melainkan untuk melindungi manusia maupun satwa dari potensi bahaya.

Karena itu, ia mengimbau para orang tua untuk memberikan pengawasan maksimal terhadap anak-anak saat berkunjung ke tempat wisata, khususnya di area yang berdekatan dengan satwa berukuran besar dan berpotensi membahayakan.

Sebelumnya, sebuah video viral di media sosial memperlihatkan seorang anak jatuh ke dalam kandang gajah di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Dalam video itu terlihat sang anak jatuh ke area parit kandang gajah lalu dibantu orang sekitar untuk naik.

Dalam video yang dilihat pada, Minggu (31/5), anak yang mengenakan pakaian merah itu tampak sudah berada di area parit. Sedangkan beberapa orang dewasa mencoba melewati pembatas lalu mengulurkan tangan agar anak tersebut bisa diangkat dan kembali.

Baca juga: Libur panjang, 120.000 orang diprediksi kunjungi Ragunan

Baca juga: Ragunan siapkan 27 titik parkir tambahan hadapi lonjakan pengunjung

Baca juga: DKI rencanakan kenaikan tarif Ragunan bagi wisatawan non-Jakarta

Pewarta: Khaerul Izan
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |