Lebak surplus 240 ribu ton beras, pasok kebutuhan Jabotabek

3 hours ago 3

Lebak  (ANTARA) - Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terus memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional dengan produksi beras daerah ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat setempat, tetapi juga memasok berbagai wilayah di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan petani di daerah tersebut mampu mendukung produksi beras nasional melalui pola tanam dua kali dalam setahun.

"Kita minta petani jika musim panen maka kembali melakukan percepatan tanam guna keberlanjutan produksi pangan," kata Rahmat di Lebak, Minggu.

Pemerintah Kabupaten Lebak mengapresiasi kerja keras para petani yang menjadikan daerah tersebut masuk dalam kategori lumbung pangan di Provinsi Banten. Produksi beras Kabupaten Lebak selama ini juga dipasok ke berbagai daerah di luar wilayahnya, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Jabotabek.

Petani di Kabupaten Lebak mengelola lahan sawah dengan luas tambah tanam (LTT) mencapai 100 ribu hektare per tahun dan menerapkan indeks pertanaman (IP) dua kali tanam dalam setahun.

Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian, Kabupaten Lebak bersama Kabupaten Serang masuk dalam 10 kabupaten pemasok beras nasional untuk kebutuhan masyarakat Jabotabek.

"Kami mendorong produksi pangan di Lebak terus meningkat dan terbukti pada 2025 sebanyak 725.813 ton gabah kering pungut (GKP) dan jika dikonversikan beras mencapai 380.000 ton," katanya.

Menurut Rahmat, kebutuhan konsumsi beras masyarakat Kabupaten Lebak yang berjumlah sekitar 1,4 juta jiwa mencapai 140 ribu ton per tahun. Dengan total produksi beras mencapai 380 ribu ton, daerah tersebut memiliki surplus sekitar 240 ribu ton yang dapat berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Karena itu, sisa produksinya beras sekitar 240 ribu ton surplus dan bisa menyumbangkan pangan nasional.

Ia menambahkan bahwa sektor padi sawah masih menjadi sumber pendapatan utama petani dibandingkan komoditas hortikultura maupun palawija.

Produksi beras terbesar di Kabupaten Lebak berasal dari wilayah selatan, antara lain Kecamatan Malingping, Wanasalam, Banjarsari, dan Bayah.

Dari sisi ekonomi, usaha tani padi sawah juga dinilai masih menjanjikan. Nilai investasi usaha pertanian padi sawah mencapai sekitar Rp10 juta per hektare dengan produktivitas rata-rata gabah pungut sebesar lima ton per hektare.

"Bila harga gabah pungut itu Rp6.500/kg dengan produktivitas 5 ton, sehingga bisa menghasilkan pendapatan Rp32.500.000/hektare," katanya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Sukabungah Kabupaten Lebak Ruhiana mengatakan usaha pertanian padi masih memberikan keuntungan yang baik bagi petani, terutama karena hasil panen dapat diserap oleh Bulog dengan harga gabah pungut Rp6.500 per kilogram.

Menurut dia, biaya pengelolaan pertanian padi sekitar Rp10 juta per hektare dengan produktivitas rata-rata lima ton gabah kering.

"Kami menjual empat ton gabah kering dengan harga Rp6.500 per kg bisa menghasilkan pendapatan ekonomi Rp26 juta, sedangkan satu ton untuk cadangan pangan keluarga," katanya.

Baca juga: Pemkab Lebak prioritaskan pertanian wujudkan kesejahteraan masyarakat

Baca juga: Pemkab Lebak apresiasi warga adat kasepuhan penuhi pangan keluarga

Pewarta: Mansyur suryana
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |