Lari pagi atau sore, mana yang lebih baik? Ini penjelasannya

4 hours ago 7

Jakarta (ANTARA) - Lari bisa dilakukan hampir kapan saja. Ada yang memilih bangun lebih pagi untuk berlari sebelum memulai aktivitas, sementara sebagian lainnya lebih nyaman berlari setelah pekerjaan atau kegiatan sehari-hari selesai.

Perbedaan waktu tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan, "lari pagi atau sore, sebenarnya mana yang lebih baik?"

Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih salah satunya. Waktu terbaik untuk berlari dapat bergantung pada tujuan latihan, rutinitas, kondisi tubuh, hingga waktu tidur masing-masing orang.

Sejumlah penelitian memang menemukan adanya perbedaan performa olahraga pada waktu yang berbeda dalam sehari. Namun, tidak ada satu waktu yang secara mutlak paling baik untuk semua orang.

Lantas, apa saja yang perlu dipertimbangkan?

1. Lari pagi cocok untuk memulai hari

Bagi sebagian orang, pagi menjadi waktu yang ideal untuk berolahraga karena aktivitas belum terlalu padat. Lari bisa dilakukan sebelum sekolah, bekerja, atau menjalankan berbagai kegiatan lainnya.

Lari pagi juga dapat menjadi cara untuk membangun rutinitas olahraga. Jika olahraga dilakukan sebelum kesibukan mulai menumpuk, kemungkinan sesi latihan terganggu oleh agenda lain bisa lebih kecil.

Namun, tubuh biasanya baru saja melewati waktu tidur sehingga perlu diberi kesempatan untuk beradaptasi. Jangan langsung berlari dengan intensitas tinggi. Awali dengan pemanasan dan tingkatkan intensitas secara bertahap.

Baca juga: Berapa pace lari yang bagus untuk pemula? Ini angka ideal dan cara menentukannya

2. Lari sore bisa terasa lebih nyaman bagi sebagian orang

Sore atau menjelang malam juga menjadi waktu favorit banyak pelari. Setelah beraktivitas sepanjang hari, lari bisa menjadi kesempatan untuk bergerak sekaligus melepas penat.

Dari sisi performa, penelitian menunjukkan bahwa kemampuan olahraga ketahanan dalam sejumlah studi cenderung lebih tinggi pada sore hingga malam dibandingkan pagi. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam Journal of Strength and Conditioning Research pada 2023 menemukan performa ketahanan yang diukur melalui waktu hingga kelelahan atau total kerja cenderung lebih tinggi pada sore atau malam.

Meski demikian, bukan berarti semua orang otomatis akan berlari lebih baik pada sore hari. Ritme sirkadian atau jam biologis setiap orang dapat memengaruhi respons tubuh terhadap olahraga.

3. Perhatikan jadwal dan konsistensi

Daripada terlalu sibuk mencari waktu yang "paling sempurna", memilih waktu yang paling memungkinkan untuk dilakukan secara rutin justru lebih penting.

Misalnya, jika pagi hari selalu dipenuhi kesibukan dan membuat sesi lari sering terlewat, sore mungkin menjadi pilihan yang lebih realistis. Sebaliknya, jika sore hari biasanya digunakan untuk berbagai kegiatan lain, lari pagi bisa menjadi pilihan yang lebih mudah dipertahankan.

Penelitian mengenai waktu olahraga juga belum menunjukkan adanya waktu universal yang paling baik untuk semua orang. Faktor seperti kebiasaan, jadwal tidur, waktu bangun, dan karakteristik biologis turut berperan.

Dengan kata lain, waktu terbaik adalah waktu yang membuat seseorang bisa berolahraga secara konsisten tanpa mengorbankan kebutuhan penting lainnya.

Baca juga: Era baru, hadir sepatu lari berperforma tinggi untuk pemakaian harian

4. Jangan abaikan kondisi cuaca

Bagi pelari di Indonesia, cuaca juga menjadi pertimbangan yang cukup penting. Berlari ketika matahari sudah terlalu terik tentu bisa terasa kurang nyaman, terutama jika dilakukan di ruang terbuka.

Pagi hari biasanya menawarkan suhu yang lebih rendah dibandingkan siang, sementara sore dapat menjadi pilihan setelah suhu mulai menurun. Kondisi aktual tetap perlu diperhatikan karena cuaca setiap hari bisa berbeda.

Pilih rute dan waktu yang memungkinkan aktivitas dilakukan dengan nyaman dan aman. Jika cuaca terlalu panas atau kondisi lingkungan kurang mendukung, tidak ada salahnya menyesuaikan jadwal latihan.

5. Pertimbangkan tujuan latihan

Tujuan berlari juga bisa memengaruhi pilihan waktunya.

Jika lari dilakukan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan secara umum, pagi maupun sore sama-sama dapat menjadi pilihan. Namun, bagi pelari yang sedang mempersiapkan diri menghadapi perlombaan, berlatih pada waktu yang mendekati jadwal lomba bisa membantu tubuh terbiasa dengan kondisi tersebut.

Hal ini berkaitan dengan kemampuan tubuh beradaptasi terhadap waktu aktivitas. Penelitian menunjukkan bahwa waktu latihan dan ritme sirkadian dapat memengaruhi performa, sehingga jadwal latihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan target masing-masing.

Baca juga: Baru mulai lari? Hindari 5 kesalahan ini agar tak mudah cedera

6. Bagaimana dengan lari dan kualitas tidur?

Waktu olahraga juga sering dikaitkan dengan kualitas tidur, terutama jika lari dilakukan pada malam hari.

Tidak semua orang akan mengalami gangguan tidur setelah berolahraga pada malam hari. Penelitian pada pelari rekreasional menemukan bahwa olahraga pagi maupun malam dapat meningkatkan durasi tidur fase NREM, tanpa perbedaan besar pada sejumlah ukuran kualitas tidur yang diamati.

Meski begitu, respons setiap orang dapat berbeda. Jika lari malam dengan intensitas tinggi membuat tubuh terasa terlalu aktif ketika hendak tidur, sebaiknya beri jarak lebih panjang antara waktu olahraga dan waktu tidur atau pindahkan sesi lari ke waktu yang lebih awal.

Jadi, lari pagi atau sore?

Tidak ada jawaban mutlak bahwa lari pagi selalu lebih baik daripada lari sore, atau sebaliknya.

Lari pagi bisa cocok bagi mereka yang ingin berolahraga sebelum kesibukan dimulai. Sementara itu, lari sore dapat menjadi pilihan bagi orang yang merasa tubuhnya lebih siap beraktivitas setelah menjalani rutinitas sepanjang hari.

Dari sisi kesehatan, yang paling penting adalah aktivitas tersebut dilakukan secara rutin dan sesuai kemampuan. Bahkan, meta-analisis yang membandingkan olahraga pagi dan sore tidak menemukan perbedaan bermakna pada sejumlah indikator kesehatan seperti berat badan, indeks massa tubuh, profil metabolik, dan beberapa parameter tidur.

Jadi, tidak perlu terlalu pusing menentukan mana yang paling unggul. Kalau pagi membuat kamu lebih konsisten, pilih pagi. Kalau sore terasa lebih nyaman dan tidak mengganggu tidur, sore juga sama baiknya.

Pada akhirnya, jadwal lari yang paling baik adalah jadwal yang bisa dijalankan secara konsisten, sesuai kondisi tubuh, serta tidak mengganggu waktu istirahat dan aktivitas penting lainnya.

Baca juga: Lari 30 menit setiap hari, ini 7 manfaatnya bagi kesehatan

Baca juga: Kenapa lari makin populer di kota? Ini 8 alasannya

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |